Berita

Dari Kegelisahan Sosial hingga Jadi Buku, Pemuda Garut Angkat Isu Anjing dalam Perspektif Islam dan Sunda

×

Dari Kegelisahan Sosial hingga Jadi Buku, Pemuda Garut Angkat Isu Anjing dalam Perspektif Islam dan Sunda

Sebarkan artikel ini
Diskusi dan bedah buku "Ajengan Anjing" karya Ridwan Malik, Minggu (17/5/2026).

GOSIPGARUT.ID — Budaya membaca dan menulis menjadi ruang ekspresi bagi Ridwan Malik dalam memahami berbagai fenomena sosial yang ia temui di masyarakat. Dari kegelisahan itulah, pemuda asal Garut Selatan tersebut melahirkan sebuah buku setebal 300 halaman berjudul “Ajengan Anjing”, yang dibedah dalam diskusi publik di Tikum Café, Minggu (17/5/2026).

Buku tersebut lahir dari proses panjang pencarian referensi, pembacaan literatur, hingga pergulatan pemikiran yang dimulai sejak 2021. Ridwan mengaku terdorong menulis setelah melihat sebuah peristiwa yang sempat viral di media sosial dan pemberitaan media daring.

“Proses penulisan dimulai tahun 2021, ada pemicunya lalu saya cari referensi bacaannya,” ujar Ridwan saat menjadi pembicara dalam acara bedah buku.

Ia menceritakan, pemicu utama penulisan bukunya berasal dari kisah seorang perempuan Muslim bercadar di Bogor yang memelihara anjing-anjing liar karena rasa iba. Awalnya, perempuan tersebut hanya memberi makan seekor anjing jalanan yang kelaparan. Namun, anjing itu terus mengikuti hingga ke rumahnya.

Seiring waktu, jumlah anjing yang dipelihara semakin banyak. Kondisi itu kemudian menuai protes dari salah satu organisasi massa keagamaan karena anjing dianggap sebagai hewan yang haram dalam pandangan tertentu.

Baca Juga:   GGW Sebut Banyak Lansia di Garut Tidak Dapat Bantuan Sosial Akibat Birokrasi Busuk

“Itu cerita asli, kejadiannya di Bogor. Ceritanya viral dan jadi berita di banyak media,” kata Ridwan.

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan kritis dalam dirinya. Ia mulai mempelajari bagaimana anjing dipandang dalam tradisi Islam, sejarah peradaban manusia, hingga budaya masyarakat Sunda.

Dari berbagai referensi yang dibacanya, Ridwan menemukan bahwa anjing memiliki hubungan panjang dengan manusia sejak masa awal domestikasi hewan.

“Anjing itu ternyata binatang yang pertama didomestifikasi dan paling dekat dengan manusia,” ujarnya.

Melalui buku “Ajengan Anjing”, Ridwan tidak hanya membahas relasi manusia dengan hewan, tetapi juga menyinggung persoalan ekologi, empati sosial, dan cara masyarakat memaknai perbedaan. Judul buku yang terkesan provokatif sengaja dipilih untuk memancing rasa ingin tahu pembaca agar mau masuk lebih dalam ke substansi gagasan yang ditawarkan.

Aktivis perempuan sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Ekologi Ath-Thoriq, Nissa Wargadipura, yang hadir sebagai pemantik diskusi mengapresiasi keberanian Ridwan mengangkat isu yang jarang dibahas anak muda.

Baca Juga:   Pemkab Garut Gunakan Pestisida Nabati untuk Cegah Serangan Hama Ulat

Menurut Nissa, literasi menjadi salah satu jalan penting untuk membangun kesadaran sosial dan lingkungan di tengah derasnya arus informasi media sosial.

“Saya senang melihat ada anak muda bisa menulis buku. Sejak dulu saya juga mengajak anak-anak untuk rajin membaca dan menulis, apalagi sekarang era media sosial bisa posting tulisan-tulisan di medsos,” ujar Nissa.

Ia mengaku juga kerap menulis tentang isu teologi dan ekologi melalui media sosial dengan pendekatan judul-judul yang menarik perhatian pembaca. Dari aktivitas literasi tersebut, Nissa bahkan mendapat perhatian dari lembaga pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga dipercaya menjadi salah satu duta program lingkungan dan pangan.

Diskusi bedah buku “Ajengan Anjing” sendiri digelar oleh Yayasan Tangtudibuana melalui program Wahana Ruwat Gagasan (Waruga). Program tersebut dirancang sebagai ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan ide, keresahan, dan kreativitas melalui diskusi maupun karya tulis.

Baca Juga:   Seorang Pemuda di Garut Nekat Bunuh Tetangga Saat Curi Emas 9,5 Gram

Manajer Program Waruga, Rama Januar, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan ruang aman bagi anak muda untuk berpikir kritis dan menyampaikan gagasan secara terbuka.

“Isu utamanya adalah soal lingkungan. Kita buka ruang-ruang anak muda mengungkapkan ide dan gagasan mereka untuk didiskusikan,” kata Rama.

Selain menyediakan ruang diskusi, yayasan juga membantu penerbitan tulisan melalui platform digital hingga fasilitasi pengurusan ISBN bagi karya yang dinilai layak diterbitkan menjadi buku.

“Kita bisa bantu proses ISBN-nya. Kalau untuk biaya cetak buku tentu disesuaikan dengan kemampuan yayasan. Yang paling penting, kita ingin membuka ruang generasi muda mengekspresikan gagasan dan kegelisahannya,” ujarnya.

Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan konten singkat media sosial, langkah Ridwan menulis buku dinilai menjadi pengingat bahwa membaca dan menulis masih memiliki peran penting untuk memahami persoalan sosial secara lebih mendalam dan manusiawi. (Ary)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *