SUATU saat Mardigu Wowik pergi ke Konawe. Dia begitu kaget melihat tobong pembakar setinggi 20-25 meter yang konon didatangkan dari China. Kaget, karena sadar itu teknologi 20-30 tahun yang lalu alias barang bekas.
“Kenapa Indonesia mau membeli barang bekas?” pikir Mardigu seraya hal itu ia katakan dengan lantang kepada teman satu mobilnya.
Temannya nanya, “Kenapa emang?”
Jawab Mardigu, “Saya khawatir Indonesia ditipu.”
Mardigu ingat masa lalunya sebagai orang yang terlibat jual barang teknologi bekas dengan harga seperti baru. Dibayar dicicil alias diutangkan supaya berbunga juga.
Semisal menjual pabrik pengelolaan plastik usia 20 tahun dari Pasuruan ke Malayasia. Dibeli seorang teman di Malaysia karena tawaran dapat dicicil pembayarannya tentu dengan harga tinggi berikut ditambah bunganya (leasing).
Temannya malah kaget, tapi ujungnya ketawa-ketawa.
“Kenapa bro”? Mardigu balik bertanya.
“Di Morowali tobong yang kaya gini ada ribuan jumlahnya,” jawab temannya singkat. ***



.png)






