GOSIPGARUT.ID — Hasil tangkapan lobster di perairan laut selatan Garut saat ini tengah melimpah. Sobri, pengusaha Lobster Taman Manalusu, Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut mengatakan, musim kemarau cukup panjang yang terjadi tahun lalu, menyimpan hikmah tesendiri bagi nelayan.
“Pengalaman kami, jika kemarau panjang maka lobster banyak, tapi jika kemarau pendek, lobsternya malah berkurang,” ujar dia, Minggu (2/2/2020).
Terhitung sejak Oktober tahun lalu, tangkapan lobster terbilang tinggi, meskipun gelombang pantai laut selatan terbilang tinggi saat ini. “Puncaknya (lobster) yaitu pada Januari ini, tapi tidak tahu juga, sampai kapan,” ujarnya dengan bangga.
Menurutnya, limpahan lobster yang cukup besar memang anugerah bagi nelayan setempat, bahkan tahun ini puncak panen lobster terbilang lama. “Biasanya dimulai November, tapi sekarang malam Oktober sudah banyak,” kata dia.
Kondisi itu tak ayal membuat rona kegembiraan nampak terpancar dari para nelayan. Jika biasanya hanya mendapatkan lobster 5-10 kilogram, namun saat ini justru bisa naik hingga enam kali lipat.
“Hari ini saya jual sekitar 30 kilogram, padahal gelombang laut tengah tinggi,” ujar Mulyana, nelayan setempat.
Selain potensi lobster yang terbilang melimpah, pemilihan waktu menebar jaring yang tepat, ujar dia, menjadi faktor lain keberhasilan hasil tangkapan. “Biasanya kalau lagi banyak begini, kita pilih pagi hari, menjelang siang kita angkat,” ujar Mulyana membocorkan waktu tangkapan yang tepat.
Sobri menyatakan, saat ini rata-rata hasil tangkapan lobster yang dijual nelayan mencapai tiga hingga lima kuintal setiap hari. Angka itu naik dua kali lipat dibanding bulan biasa. “Biasa paling satu sampai dua kuintal sudah bagus, sekarang bisa tembus lima (kuintal), bahkan lebih,” kata dia.
Beberapa daerah yang menjadi tujuan pemasaran lobster dari Garut yakni Jakarta, Surabaya, Jogjakarta. “Tapi biasanya yang (lobster) besar larinya buat ekspor, kalau yang kecil atau sedang, untuk resto,” ujarnya.
Namun meskipun demikian, di tengah pasokan lobster yang cukup melimpah, harga jual terbilang kurang bersahabat. Masuknya momen imlek tahun ini, yang berbarengan jatuh pada Januari, membuat pesanan lobster, terutama berukuran jumbo turun.
“Orang Cina kebanyakan libur, sehingga lobster ukuran besar kurang laku,” kata Sobri.
Ia mencontohkan, jika sebelumnya lobster jenis mutiara dengan berat satu kilogram berisi dua tiga ekor di hargai Rp600 ribu per kilo, maka saat ini hanya dijual Rp400 ribu per kilo.
Kemudian lobster ukuran sedang dengan jumlah 7-8 ekor per kilogram hanya dijual Rp120 ribu. “Biasanya kami jual di angka Rp300 ribu per kilo,” jelas Sobri.
Bahkan lobster ukuran kecil dengan jumlah 13-15 ekor per kilo, hanya dijual di bawah Rp100 ribu per kilogram. “Jumlahnya juga cukup melimpah,” kata dia.
Dengan kondisi itu, tak mengherankan penjualan jumlah lobster berukuran kecil meroket tajam, terutama mereka yang tengah berkunjung saat liburan imlek. “Apalagi harganya juga murah, dari awalnya Rp120 ribu, sekarang hanya Rp75 ribu per kilo,” ujar Sobri.
Eko, salah satu pengunjung asal Garut merasakan hal itu. Menurutnya, pembelian lobster terbilang murah saat liburan imlek tahun ini. “Kalau di pasaran ukuran satu kilogram berisi 13 ekor ekor itu, bisa mencapai Rp 180 ribu,” kata dia.
Merosoknya permintaan lobster ukuran jumbo atau besar saat imlek, memang tidak dipungkiri. Namun hal itu bakal kembali normal, sepekan setelah perayaan hari besar masyarakat tionghoa itu berlangsung. (Lp6)



.png)








