oleh

Menunggu Gebragan Kapolres Garut yang Baru, AKBP Dede Yudi Ferdiansah

Oleh: Galih F. Qurbany

PERTAMA yang ingin saya katakan sebagai opening statemen (kalimat pembuka) kepada Kapolres Garut yang baru: Bapak AKBP Dede Yudi Ferdiansah, SIK.MIK, adalah “Welcome to Garut, the small city with a millions story (Kota kecil dengan sejuta piomongen)”. Dan Selamat jalan diiringi ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada Kapolres lama, Bapak AKBP Budi Satria Wiguna ke tempat tugas yang baru di Polda Jabar. Semoga meraih prestasi gemilang dan segera menjadi jenderal. Aamiin….

Inilah Garut kota kecil dengan sejuta “piomongen”, sejuta masalah dan sejuta dinamika. Bahkan ada yang bilang kota aktivis dengan sejuta LSM. Oleh karenanya, tidaklah menjadi aneh jika persolan yang bersumber dari kota Garut langsung jadi viral dan menjadi perhatian publik, baik bersifat nasional maupun international. Namun sayangnya, viralitas sebuah berita yang diterbitkan lebih bayak berkonotasi negatif/aneh dan nyeleneh.

Sebut saja bupati independen pertama yang berhasil dipilih secara langsung di republik ini adalah H. Aceng Fikri, seorang aktivis pergerakan yang telah menjadi fenomenal bahkan sekaligus menjadi bupati independent pertama jua yang dilengserkan melalui impeachment oleh DPRD Garut karena diduga telah cacat secara etik dan moral sebagai pejabat publik.

Lalu munculnya nabi baru “Nabi Sensen” di Pakenjeng, Garut Selatan. Kasus pembakaran bendera HTI yang bertulisan tauhid, yang telah memancing eksistensi penganut khilafah menunjukan dirinya dengan melakukan kompoi puluhan ribu bendera HTI yang dipresepsikan sebagai bendera tauhid. Kemudian gerakan perlawan kolaborasi para pengusaha dan aktivis yang melakukan perlawanan terhadap bupati dan SKPD akibat tidak diserapnya bantuan keuangan provinsi senilai Rp134 miliar.

Dan yang masih berbekas adalah beredarnya video porno gangbang:”Vina Garut”. Sementara yang paling update (masih hangat) adalah kasus disingingkirnya saudara Ervin Luthfi, caleg asal Kabupaten Garut sebagai calon terpilih DPR RI dari partai Gerindra dengan perolehan suara 33.000, yang seharusnya dilantik tapi dengan mudah secara sepihak dipecat dan dianggap tidak memenuhi syarat sebagai anggota DPR RI dan digantikan oleh Mulan Jameela (Sang Perebut).

Baca Juga:   Bupati Garut Harus Segera Membentuk Gugus Tugas Reforma Agraria

Untuk kasus yang terakhir ini, prosesnya sedang berjalan dan kita masih menunggu hasil akhirnya. Kita berdoa saja semoga yang haq memperoleh kemenangan.

Semua kasus tersebut adalah bagian kecil dari dinamika dan dialektika ketengilan cerita yang merepresentasikan dan meprsonifiaksikan sebauh tradisi,sikap refleksi, dan alur geliat masyarakat Garut dalam merespon sebuah persoalan, serta masih banyak lagi persolan yang bersifat daily activity terjadi seolah tanpa arah “zigzag”, anomali bahkan gerakan pasukan yang dipelopori oleh pasukan bertuan “underdog” dan tanpa tuan “ronin” dalam memengusung tema-tema aspirasi maupun misinya.

Namun yang paling menghawatirkan adalah kasus yang tak bertepi “never ending”, seolah masuk freezer sehingga beku tak terlihat. Padahal sejatinya tidak ada kasus yang mencuat yang diusung oleh sekelompok masyarakat, aktivis, maupun LSM yang tidak berdasar dan tidak menganut delik hukum.

Karena semua kasus tersebut menurut pandangan kami adalah kasus besar yang telah mengalami proses pengkajian dan analaisa mendalam, bahkan termasuk dalam ranah hukum yang dapat berimpilikasi dan berekses terhadap semua sendi kehidupan masyarakat Garut, yang jika terjadi pembiaran akan memberikan ekses, virus, bahkan endemik penyumbatan terhadap kesinambungan pembangunan.

Oleh karena itu saya dan masyarakat Garut, khusunya aktivis, sangat mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya kepada Kapolres baru Bapak AKBP Dede Yudi Ferdiansah yang memiliki concern khusus terhadap kasus-kasus korupsi untuk melakukan gebragan dan segera melakukan ekspose sejumlah kasus korupsi di Garut, baik yang sudah berjalan berupa kasus baru tahap pelaporan maupun penyelidikan yang telah lama ditunggu-tunggu oleh seantero masyarakat Garut.

Galih F. Qurbany

Karena, diakui atau tidak banyak kasus korupsi, khususnya yang telah teridikasi dan teridentifikasi, merupakan bagian dari mozaik dan siluet korupsi lenyap bah asap ditelan badai.

Baca Juga:   Romahurmuziy, Layu Sebelum Barkembang (Catatan: Imron Abdul Rajak)

Dengan demikian bukanlah isapan jempol dan kerinduan yang tak berdasar yang hampir sewindu, jika seluruh masyarakat Garut sangat mencintai daerahnya dan pemerintahannya, begitu berharap tata kelola pemerintahan ini berjalan sesuia dengan aturan (on the track) dalam rangka menciptakan clean govenance dan transpansi informasi publik.

Sehingga, sangat berharap semua delik dan persoalan hukum terkhusus kasus korupsi diharapkan bisa terungkap dan terekspose ke publik, jelas vonis and reward-nya, jelas siapa “malaikat dan iblis”, dan jelas pula ending dari alur cerita, adanya pelanggaran, penyalahgunaan wewenang (abuse of power), sehingga masyarakat terhindar dari prilaku merugikan berupa deceitful practice, yaitu praktek-praktek kebohongan pejabat publik, tidak jujur, dan penyakit-penyakit birokrasi (bureaupathologis), yang ABS (asal babeh senang) yang menanggalkan profesionalitas dan akuntabilitas terhadap masyarakatnya.

Berangkat dari harapan yang panjang akan adanya APH (aparat penegak hukum) yang berintegritas, terhusus kepolisian yang merupakan ujung tombak penegakan hukum (first step), yang mampu bekerja cepat tepat, pofesional dan tidak tebang pilih serta anti “86”, maka sangatlah beralasan dan mendasar harapan itu bertupuk kepada Kapolres baru Bapak Dede Yudi Ferdiansah yang secara kebetulan memiliki background reserse kriminal (reskrim), akan dapat melakukan upaya penegakan hukum secara gentele, profesional, adil, dan tidak tebang pilih.

Karena harapan ini, sejatinya bukan saja harapan masyarakat Garut, tapi merupakan harapan bangsa Indonesia sebagaimana disampaikan oleh Kapolri yang merupakan tindaklanjut dari arahan Presiden Jokowi bahwa Polri akan lebih profesional, dipercaya publik serta memiliki layanan publik yang lebih baik dan humanis yang dikemas dalam sebuah visi yaitu “Polri yang terpercaya melalui profesionalisme dan modernisasi“.

Visi itu teruang dalam tiga point, pertama: perbaikan kinerja khususnya di bidang layanan publik yang dapat diakses oleh masyarakat. Kedua, profesionalisme dalam penegakan hukum. Dan yang ketiga, adalah pemeliharaan kamtibmas yang lebih baik, terutama untuk kasus-kasus kerusuhan massal, kasus-kasus intoleransi, terorisme, radikalisme, dan lain-lain.

Baca Juga:   Apa Benar Pancasila yang Mengusir Warga Bangsa? (Catatan: Asep Lukman)

Tantangan-tantangan tersebut membutuhkan kecerdasan dan kecepatan bertindak dari Polri. Semua harus ditangani Polri secara profesional, akuntabel, dan sinergi dengan lembaga lain. Berharap dari cita-cita ideal Polri untuk bekerja secara pofesional dan dapat dipercaya publik, maka sejalan dengan itu pula kami berharap semoga kasus- kasus yang terpeti-es-kan dan yang nyaris untochtable ( tak tersentuh) dan bahkan dirasa lamban.

Sebut saja seperti kasus SOR Ciateul, pasar Leles, Samarang, Limbangan, kasus jalan lingkar luar yang teridikasi kongkalikong, kasus semaraknya tower dan penambangan serta minimarket bahkan pabrik-pabrik ilegal, oknum birokrasi yang menjadi kepanjangan tangan pengusaha bahkan menjadi wasit merangkap pemain, “buy one get one “, serta kasus Pokir dan BOP yang diduga dilakukan oleh oknum DPRD yang saat ini dalam penanganan Kejari Garut.

Pun, masih banyak lagi sejumlah membangunan infrastruktur yang menyimpang dari ketentuan, yang semua itu hanya bagian kecil dari puncak gunung es yang akan menjadi beban sekaligus tantangan bagi Kapolres baru untuk dapat membuka tabir, mengurai benang kusut yang harus segera dibenahi dan harus segera diusut dan dibongkar secara tuntas.

Sekali lagi kami ucapkan selamat datang di kota Garut “Welcome to the smoke jungle (Selamat datang di Garut, hutan berasap/terhalangi)”. Semoga Bapak mampu menjalankan tugas dengan baik dan yakinlah Bapak Kapolres tidak sendiri. Sederetan aktivis, mahasiswa, LSM, dan masyarakat yang masih waras dan “jejeg” berada dan selalu bersama Bapak.

Kami akan selalu bersama Bapak untuk menegakan kebenaran dan keadailan meskipun langit runtuh. Dan insha Allah smua aktivis akan bersama Kapores dan jajarannya,kecuali kalau ada tilang (razia). Wassalam…. (Penulis adalah aktivis 98, Direktur Pusat Analisa Kebijakan dan Informasi Strategis/PAKIS)

Komentar