Opini

Dari Sepiring Makanan, Menuju Perubahan

×

Dari Sepiring Makanan, Menuju Perubahan

Sebarkan artikel ini
Hazmi A’isy Fadhlurrahman.

Oleh: Hazmi A’isy Fadhlurrahman

SEPULANG berenang, ayah pernah mengatakan kepada saya, “Lelah setelah berenang itu wajar, tapi jangan sampai lelah membuat kamu asal memilih makanan.”

Kalimat sederhana itu kemudian membuat saya berpikir. Setelah berenang, saya melihat beberapa perenang rekreasional memilih mi instan atau makanan kemasan untuk mengatasi rasa lapar. Pilihan tersebut memang praktis, mudah didapat, dan relatif terjangkau.

Namun, apakah makanan seperti itu selalu menjadi pilihan yang tepat setelah berolahraga?

Makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) merupakan makanan yang melalui berbagai proses industri dan biasanya mengandung bahan tambahan seperti perisa, pewarna, pemanis, atau pengemulsi.

Persoalannya bukan sekadar boleh atau tidak boleh mengonsumsi UPF. Yang menarik bagi saya adalah mengapa makanan tersebut menjadi pilihan setelah berenang.

Sebuah studi pada 2011 terhadap 14 laki-laki sehat yang bukan atlet terlatih menemukan bahwa rasa lapar dapat meningkat beberapa jam setelah berenang. Namun, penelitian tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perenang rekreasional cenderung mengonsumsi UPF setelah berenang.

Baca Juga:   H. Usep Romli, Menulis Hingga Akhir Hayat Dikenang Hingga Akhir Zaman

Justru karena belum ada data yang cukup, saya merasa perlu mencari tahu.

Apakah pilihan makanan setelah berenang dipengaruhi rasa lelah? Apakah karena harga yang lebih murah? Karena mudah ditemukan? Atau hanya karena sudah menjadi kebiasaan?

Saya adalah mahasiswa semester tiga Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Saya juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi dan pengabdian masyarakat.

Bagi saya, belajar kesehatan masyarakat bukan hanya mempelajari penyakit. Lebih dari itu, saya ingin memahami kebiasaan masyarakat dan mencari cara agar perubahan hidup sehat dapat dilakukan secara nyata.

Karena itu, saya berencana melakukan penelitian mengenai kecenderungan konsumsi UPF setelah berenang pada perenang rekreasional.

Penelitian ini rencananya dilakukan dengan metode kualitatif melalui wawancara. Lokasi awal yang saya rencanakan adalah kawasan wisata Surya Alam, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Garut.

Saya ingin mengetahui langsung apa yang dikonsumsi masyarakat setelah berenang, alasan mereka memilih makanan tersebut, serta faktor yang paling memengaruhi pilihan mereka.

Hasil penelitian ini diharapkan tidak hanya menjawab rasa penasaran saya, tetapi juga dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Baca Juga:   Kang Emil Ngalalakon: Akal Sehat Terkadang Kalah Oleh Akal Bulus

Sambil menunggu penelitian berjalan, saya melihat ada langkah sederhana yang bisa dilakukan, yaitu memberikan pilihan makanan yang lebih sehat.

Dari sinilah muncul gagasan Healthy Post-Swim Snack.

Konsepnya sederhana: menyediakan makanan ringan yang lebih sehat di sekitar kolam renang, seperti telur rebus, buah potong, ubi kukus, kacang-kacangan, dan jagung manis.

Masyarakat tidak harus dipaksa meninggalkan makanan yang biasa mereka konsumsi. Yang penting adalah menyediakan pilihan lain yang mudah diperoleh, terjangkau, dan menarik.

Informasi sederhana juga dapat diberikan melalui kode QR pada kemasan atau kios. Misalnya dengan pesan:

“Snack aman perut, aman sehat, aman dompet.”

Program ini juga dapat melibatkan UMKM setempat. Pengelola kolam renang dapat menyediakan ruang, sementara UMKM menyiapkan makanan sehat. Dengan begitu, program kesehatan sekaligus dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Saya berharap program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Evaluasi perlu dilakukan secara berkala agar jenis makanan dan cara penyajiannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga:   Bupati Garut Harus Segera Membentuk Gugus Tugas Reforma Agraria

Pada akhirnya, percakapan sederhana dengan ayah sepulang berenang membuat saya melihat makanan dari sudut pandang yang berbeda.

Saya menyadari bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, perubahan dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana.

Dari pertanyaan, kita mencari data. Dari data, kita memahami masalah. Dari masalah, kita mencari solusi.

Sebagai mahasiswa kesehatan masyarakat, saya ingin terus belajar mengubah keresahan menjadi gagasan dan gagasan menjadi tindakan yang bermanfaat.

Saya percaya, menjadi tenaga kesehatan bukan hanya tentang memahami penyakit, tetapi juga tentang hadir bersama masyarakat untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih baik.

Dan mungkin, perubahan itu bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana: dari sepiring makanan setelah berenang. ***

Penulis: Mahasiswa Semester I Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *