GOSIPGARUT.ID — Prestasi manis di atas arena tak selamanya berbanding lurus dengan perhatian pemerintah daerah. Nasib nahas kini menimpa para atlet BMX Freestyle Kabupaten Garut. Di tengah persiapan menghadapi ajang kompetisi mendatang, keberangkatan mereka terancam batal akibat keterbatasan anggaran, fasilitas serba terbatas, hingga carut-marut administrasi kontingen.
Pelatih BMX Freestyle Garut, Bayu Ningrat (40), mengungkapkan bahwa hambatan utama yang mencekik para atlet adalah tiadanya dana latihan dan peremajaan alat. Sepeda khusus untuk kategori Park maupun Street membutuhkan spesifikasi tinggi dengan nilai modifikasi mencapai puluhan juta rupiah. Sayangnya, para atlet Garut justru bertarung menggunakan sepeda pribadi yang sudah uzur.
”Sepeda BMX itu ada masa pemakaiannya. Kalau sudah terlalu lama, tentu harus diganti,” kata Bayu. Sebagian sepeda yang dipakai bertanding saat ini bahkan sudah digunakan sejak 2012 dan dinilai sangat tidak layak untuk kompetisi tingkat tinggi.
Untuk menyiasati minimnya sarana pendukung, tim pelatih dan atlet terpaksa menempuh cara swadaya hingga meminjam peralatan dari luar kota. Padahal, dari segi pencapaian, cabang olahraga ini kerap menyumbang medali untuk Kabupaten Garut.
”Selama ini dengan fasilitas yang sangat terbatas, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada, atlet masih mampu menyumbangkan medali. Seharusnya ini menjadi perhatian,” ujar Bayu.
Ketidakpastian Keberangkatan dan Simpang Siur Data Atlet
Krisis ini berujung pada ketidakpastian keberangkatan dua atlet Open Class Garut, Haikal Ahmad Fauzan dan Aditya Pratama. Meski siap secara fisik dan mental, posisi mereka mengambang karena hak-hak dasar kontingen belum dipenuhi.
”Anak-anak sebenarnya siap berangkat, tetapi insentif belum turun seluruhnya, begitu juga baju kontingen dan biaya keberangkatan. Masih perlu ada kejelasan,” tegas Bayu.
Tak berhenti di masalah finansial, Bayu juga menyoroti kejanggalan administrasi pada pendataan peserta. Nama atlet yang telah lama mengajukan pengunduran diri secara resmi justru masih terdaftar. Selain itu, dokumen foto yang digunakan dalam sistem pendataan disinyalir diambil tanpa persetujuan atlet yang bersangkutan.
Bayu mendesak pihak terkait segera memberi kepastian dan membenahi tata kelola pembinaan BMX Freestyle di Garut. Menurutnya, atlet tidak boleh terus-menerus dituntut menyumbang medali tanpa diimbangi jaminan fasilitas, anggaran, dan administrasi yang transparan. (Yuyus)








