Berita

Rekening Bukan Kebutuhan Pokok, Warga Pedalaman Garut Selatan Tak Terimbas Pemblokiran PPATK

×

Rekening Bukan Kebutuhan Pokok, Warga Pedalaman Garut Selatan Tak Terimbas Pemblokiran PPATK

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI -- Warga sedang membuka rekening bank.

GOSIPGARUT.ID — Langkah Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang memblokir rekening-rekening pasif (dormant) tak berpengaruh besar terhadap warga di wilayah Garut Selatan. Di daerah seperti Cibalong, Cisompet, hingga Pamulihan, mayoritas warga justru tak memiliki rekening bank sama sekali.

Penelusuran GOSIPGARUT.ID menemukan bahwa bagi sebagian besar warga di daerah pedalaman Garut, kepemilikan rekening bank dianggap bukan kebutuhan mendesak. Hambatan geografis, akses jalan yang rusak, hingga biaya transportasi yang tinggi menjadi alasan utama masyarakat enggan membuka rekening.

“Pergi ke bank saja butuh waktu dua jam naik ojeg, ongkosnya Rp200 ribu pulang pergi. Mending dipakai buat makan,” ujar Uyen, warga Kampung Cileuleuy, Desa Garumukti, Kecamatan Pamulihan, saat ditemui pada Selasa (5/8/2025).

Baca Juga:   Jadi Prioritas Sebagai Calon Daerah Otonomi Baru, Garut Selatan Akan Dapat Hibah Tanah dari 129 Desa

Menurut Uyen, kehidupan sehari-hari sebagai buruh tani tidak menuntut dirinya untuk memiliki rekening bank, bahkan juga tidak memerlukan telepon genggam. “Buat saya, rekening dan HP itu bukan kebutuhan pokok,” ungkapnya.

Selama ini, jika ada kebutuhan transaksi perbankan, warga lebih mengandalkan layanan BRI Link yang tersedia di beberapa warung atau toko terdekat. Layanan ini dinilai lebih praktis dan terjangkau dibanding harus ke kantor bank unit terdekat yang berada di Kecamatan Cikajang.

Baca Juga:   Cidora Disiapkan Jadi Pelabuhan Baru, Garut Selatan Bersiap Jadi Pusat Ekonomi Laut

“Di Pamulihan belum ada kantor unit bank. Kalau mau buka rekening harus ke Cikajang. Jalan ke sana rusak parah, belum lagi jauh,” tambahnya.

Kondisi serupa juga dialami warga di kampung lain seperti Ciangkrong dan Wates. Akses jalan yang memprihatinkan serta minimnya infrastruktur perbankan membuat masyarakat lebih memilih menyimpan uang secara konvensional atau melalui transaksi tunai.

Baca Juga:   Antisipasi Bencana Longsor, Alat Berat Disiagakan di Garut Selatan

“Kami hidup sederhana. Transaksi juga biasa saja. Tidak sampai butuh rekening segala,” tutup Uyen.

Kisah ini mencerminkan realita kesenjangan akses layanan keuangan di pedesaan. Meski digitalisasi dan sistem keuangan terus berkembang, belum semua lapisan masyarakat merasakan manfaatnya secara merata, terlebih mereka yang berada di daerah terpencil. (Ai Karnengsih)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *