GOSIPGARUT.ID — Calon senator (anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia/DPD RI) dari daerah pemilihan Jawa Barat, Sapei ST, mengatakan bahwa sistem kapitalisme sudah masuk ke desa-desa.
Sistem ini masuk ke pedesaan, menurut alumni ITB berusia 43 tahun ini, membawa nilai-nilai baru. Seperti kepemilikan pribadi, produksi untuk pasar, diberlakukannya sistim sewa dan upah. Intinya, alat produksi (tanah) dan tenaga kerja menjadi komoditi.
“Semua itu telah menimbulkan ancaman dan keresahan bagi warga-warga desa yang miskin, yang umumnya adalah petani-petani gurem. Sistem tersebut menghancurkan dan mengubah pranata sosial-ekonomi dan budaya komunitas desa,” ujar calon senator nomor urut 59 ini, Selasa 29 Januari 2019.
Sapei menambahkan, desa-desa yang awalnya tertutup dan otonom kini dimasukkan (integrasi) ke dalam pasar global. Tidak ada lagi batas yang tegas antara desa dengan dunia luar. Penyatuan ini didukung oleh kelembagaan modern (birokrasi) sebagai alat dari negara untuk mengakumulasi dan mengamankan surplus dari desa ke negara dan pasar internasional.

“Desa yang tadinya menjadi pelindung dan penjamin keamanan subsistensi bagi warganya — yang dekat dengan garis resiko, pada akhirnya berubah fungsinya menjadi pelayan negara. Etika subsistensi yang selama ini menjadi katup pengaman dan keseimbangan sosial, terkikis habis oleh berkembangnya nilai-nilai dan cara pandang baru yang bersifat komersial,” ujar dia.
Para petani gurem, ditegaskan Sapei, tidak punya lagi gantungan untuk menolong dirinya. Tradisi tolong menolong dan kewajiban sosial sudah diambil alih oleh para tengkulak yang tentunya tidak lagi bersifat ketulusan, tapi dikomersialkan dengan cara menabur utang dan kredit yang menceburkan petani ke dalam lingkaran kemiskinan.
“Kenyataan tersebut bukanlah terjadi tiba-tiba tanpa sabab musabab. Jika kita mempelajari sejarah kebijakan ekonomi politik di Indonesia, kita akan dapat memahami bahwa fenomena ini telah dimulai secara massif sejak dijalankannya proyek Revolusi Hijau,” ujarnya.
Dengan bingkai kepentingan swasembada beras, tambah Sapei, proyek Revolusi Hijau telah menjelma menjadi proyek modernisasi secara kolosal ditopang dengan model pembangunan top down yang direkayasa oleh para teknokrat, represi militer, kontrol ketat birokrasi sipil, yang kesemuanya didukung oleh modal internasional.
“Kapitalisasi desa melalui Revolusi Hijau berjalan sangat efektif. Mekanisasi pertanian diperkenalkan dan produk-produk kapitalisme dipaksakan,” ujar dia. (Gun/Yus)



.png)















