GOSIPGARUT.ID — Seluas 400 hektare lahan pesawahan di Desa Sukamaju, Mekarmulya (Kecamatan Talegong), dan Nyalindung (Kecamatan Cisewu) terancam kekeringan menyusul rusaknya saluran air (irigasi) yang tertimpa tanah longsor pada Februari lalu.
Kepala Desa Nyalindung, Kecamatan Cisewu, Agus Ruspendi, mengatakan irigasi yang rusak itu bernama Irigasi Rido Galih Cilaki, membentang sepanjang 7 kilometer mulai dari hulu di Desa Sukamaju (Kecamatan Talegong) sampai hilir di Kampung Belendung, Desa Nyalindung (Kecamatan Cisewu).
“Irigasi tersebut menggunakan sumber air dari Sungai Cilaki, selama ini mampu mengairi lahan pesawahan seluas 400 hektare yang ada di Desa Sukamaju, Mekarmulya, dan Nyalindung,” kata dia, saat dihubungi GOSIPGARUT.ID, Sabtu (22/5/2021).
Agus menambahkan, pada Februari 2021 terjadi bencana pergerakkan tanah dan longsor di kawasan yang dilintasi irigasi tersebut, tak ayal menyebabkan di sejumlah titik irigasi tertimpa tanah longsor.
Warga Nyalindung, kata dia, sudah memperbaiki irigasi yang rusak itu beberapa hari pasca terjadinya longsor. Namun karena banyaknya titik yang rusak, hingga kini proses perbaikan dan pembersihan material longsor dari badan irigasi belum juga rampung.
“Dalam seminggu dua kali (Rabu dan Sabtu) kami (warga Desa Nyalindung) melakukan kerja bakti untuk memperbaiki saluran air itu, terutama membuang material longsoran. Sejak Februari lalu, proses perbaikan belum juga selesai mengingat titik kerusakan pada irigasi begitu banyaknya,” terang Agus.

Ia menuturkan, tidak kurang dari 50 warga yang terlibat dalam proses perbaikan irigasi itu pada tiap minggunya. Jika diuangkan, swadaya masyarakat tersebut nyaris mencapai angka Rp150 jutaan.
“Kami sengaja meminta masyarakat untuk berswadaya dalam proses perbaikan irigasi, karena kalau harus memberikan upah dari mana anggarannya? Sementara dari dana desa tidak ada alokasi untuk itu,” ucap Agus.
Ia mengaku sudah mengusulkan bantuan perbaikan Irigasi Rido Galih Cilaki ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Garut. Jawaban yang diperoleh dari salah seorang pejabat PUPR bahwa untuk perbaikan irigasi tersebut paling dimungkinkan bisa pada anggaran perubahan tahun 2021.
“Mudah-mudahan apa yang dijanjikan pihak Dinas PUPR bisa terealisir. Kami memperkirakan besaran anggaran untuk perbaikan irigasi itu mencapai Rp300 jutaan, yaitu untuk membuat saluran drainase dan tembok penahan tanah di beberapa titik yang tertimbun longsor,” kata Agus. ***



.png)











