GOSIPGARUT.ID — Banyak kaum perempuan yang terpaksa kuat melakoni pekerjaan laki-laki. Dulu, di Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, muncul nama Ma Eroh, yang diketahui mampu membelah bukit demi bisa mengalirkan air ke sawah miliknya.
Bahkan, wanita yang hanya sekolah sampai kelas III SD mampu membelah tebing dan mengairi sawah di dua kecamatan, yakni Cisayong dan Indihiang. Sebuah ide yang disebut gila namun memberi manfaat bagi masyarakat banyak.
Di Kabupaten Garut, kini ada Eneng, (46), ibu tiga anak dari Kecamatan Selaawi. Dia harus rela bekerja serabutan mulai dari menjadi kernet, supir truk, pengangkut kayu, sampai tukang ojeg semua dilakoninya demi menghidupi ketiga anaknya.
“Suami saya jatuh bangkrut dan dia memilih meninggalkan saya dan ketiga anak-anak. Semua barang yang kami miliki habis dipakai membayar utang, kami berempat hidup ngontrak. Untuk mempertahankan hidup sayalah yang bekerja. Mulanya jadi kernet truk, tapi lama-lama biasa membawa truk,” ujarnya.
Eneng pun mengaku saking sulitnya mencari uang dia sampai sempat gelap mata mencuri singkong di kebun tetangganya. “Sering saya tidak punya uang, beras tidak punya, hingga suatu malam saya pernah mencuri satu batang pohon singkong di kebun tetangga agar anak- anak saya bisa makan,” kata dia.
Kini Eneng biasa bekerja serabutan,jualan, ngojek, menerima jasa cuci dan setrika baju. Pekerjaan apapun dilakoninya asal bisa menghasilkan uang demi mencukupi kebutuhan anak-anaknya.
Tidak banyak yang ia ungkapkan saat GOSIPGARUT.ID mewawancarainya terkait suka duka dia selama menjalani profesi yang galibnya dilakukan oleh kaum laki-laki itu. Eneng pun menolak ketika hendak diambil gambarnya, tanpa memberikan alasan jelas. (Respati)



.png)











