GOSIPGARUT.ID — Sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Garut berada di titik nadir. Keterbatasan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasirbajing—satu-satunya tempat pemrosesan akhir di Garut—memicu kemacetan beruntun pengangkutan limbah di 13 kecamatan. Gunungan sampah tak hanya menyumbat tempat pembuangan sementara, tetapi juga sempat memicu gesekan sosial dengan warga setempat.
Tumpukan limbah padat mengunci akses kendaraan operasional dan mematikan pergerakan alat berat di lapangan. Alur distribusi pembuangan lumpuh total di sejumlah kawasan padat dan pusat aktivitas publik, seperti Jalan Ahmad Yani, Guntur, hingga Ciledug.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Garut, Jujun Juansyah, membeberkan alotnya hambatan teknis yang dihadapi tim pembersih di lapangan. Gunungan sampah menutup ruang gerak armada pengangkut sejak awal pergerakan.
”Kemarin kami tidak bisa masuk karena area tersebut penuh dengan sampah. Saat melakukan gerakan pembersihan dan pemadaman, kami membutuhkan alat berat (truk), namun akses terhambat karena tumpukan sampah di permukaan,” ujar Jujun.
Keterlambatan pengangkutan limbah sempat memantik ketegangan di akar rumput. Mengantisipasi eskalasi warga, DLH menggelar negosiasi maraton bersama kepolisian sektor, camat, hingga jajaran pengurus RW guna membeberkan kendala sistemik yang terjadi.
”Ada komunikasi intens dengan masyarakat, termasuk diskusi sebelumnya dengan Kapolsek, Camat, hingga tingkat RW. Akhirnya mereka maklum karena menyadari bahwa sampah tersebut harus segera dibuang,” tutur Jujun.
Sebagai langkah awal penguraian sumbatan, DLH menerjunkan delapan unit armada truk dalam aksi pembersihan massal. Langkah darurat ini perlahan membuka kembali akses lalu lintas pengangkutan sampah.
Beban 270 Ton per Hari dan Ledakan Turis
Pembersihan massal sekadar meredakan gejala, bukan mengobati penyakit utama persampahan Garut. TPA Pasirbajing kini dipaksa menampung hingga 270 ton sampah per hari tanpa ada fasilitas pendukung lain. Akibatnya, antrean armada truk membengkak dan durasi operasional memanjang.
Tekanan makin tajam menjelang akhir pekan. Ledakan kunjungan wisatawan di berbagai destinasi wisata memicu lonjakan volume limbah yang melampaui daya tampung armada maupun kapasitas TPA.
”Kami hanya punya satu TPA. Jadi mau ke mana lagi? Setiap hari sudah penuh. Jika sampah masuk ke TPS pada Kamis hingga Minggu, belum tentu semua terangkut karena harus melayani 13 kecamatan,” kata Jujun.
Jujun menepis tudingan bahwa keterlambatan armada dipicu oleh kelalaian petugas. Ia menegaskan, persoalan mendasar terletak pada ketimpangan ekstrem antara laju produksi sampah harian dan infrastruktur penampungan yang usang.
Guna mencegah kelumpuhan total, DLH menggandeng Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Garut untuk meminjam alat berat tambahan. Alat berat ini difokuskan pada pemadatan area TPA serta pembukaan akses pembersihan di titik-titik krusial.
Tanpa adanya ekspansi kapasitas TPA atau penyediaan fasilitas pemrosesan baru, ancaman darurat sampah akan terus mengintai 13 kecamatan dan wilayah Garut Selatan secara berulang. (Yuyus)



.png)
















