Berita

Atap Bergelombang dan Kelas Ambruk di Cisewu, Kadisdik Garut Minta Tolong Pusat

×

Atap Bergelombang dan Kelas Ambruk di Cisewu, Kadisdik Garut Minta Tolong Pusat

Sebarkan artikel ini
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Asep Wawan Budiman, dengan latar belakang bangunan SDN 4 Cisewu yang roboh.

GOSIPGARUT.ID — ​Satu ruang kelas di Sekolah Dasar Negeri 4 Cisewu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, roboh total. Ancaman belum berhenti di situ: konstruksi atap empat ruang kelas di sebelahnya kini melengkung bergelombang, siap runtuh kapan saja dan membahayakan nyawa para siswa.

​Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Garut, Asep Wawan Budiman, mengonfirmasi ancaman bahaya tersebut usai menyisir langsung lokasi bangunan di wilayah Garut Selatan pada Jumat, 2 Oktober 2026. Menurut dia, kerusakan fisik bangunan sudah berada di titik kritis dan membutuhkan penanganan darurat skala besar.

​”Satu kelas sudah roboh. Empat ruangan ke sana atapnya juga sudah bergelombang, ini sangat dikhawatirkan ikut roboh,” kata Asep saat di kompleks SDN 4 Cisewu, Jumat, 2 Oktober 2026.

Baca Juga:   Respons Cepat Aduan Viral, Pemkab Garut Terjunkan Tim Pajero ke Cisewu untuk Perekaman KTP-el ODGJ

​Melihat ruang gerak Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terbatas untuk perbaikan menyeluruh, Pemerintah Kabupaten Garut melemparkan sinyal darurat ke Jakarta. Dinas Pendidikan meminta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mendistribusikan alokasi anggaran khusus melalui program revitalisasi sekolah.

​Intervensi anggaran pusat dinilai menjadi satu-satunya jalan keluar agar proses belajar-mengajar tidak terhenti total. “Kami sangat berharap pemerintah pusat memberikan bantuan program revitalisasi untuk SDN 4 Cisewu. Kondisinya memprihatinkan dan jelas-jelas harus segera diperbaiki,” ujar Asep.

Baca Juga:   Deteksi Covid-19, Puskesmas Cisewu Sasar Pedagang di Enam Pasar Desa

​Kecamatan Cisewu terletak di bentang geografis Garut Selatan yang rawan cuaca ekstrem. Kerusakan infrastruktur pendidikan di daerah terpencil seperti ini kerap memicu multiplier effect: ancaman keselamatan jiwa anak-anak, potensi putus sekolah, hingga terganggunya akses kebebasan belajar dasar.

​Sembari menunggu respons dan kepastian anggaran dari pemerintah pusat, pihak sekolah terpaksa melakukan skema darurat dengan mengosongkan area rentan agar tidak ada aktivitas siswa di bawah naungan atap yang melengkung tersebut. ***

Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *