GOSIPGARUT.ID — Aksi perundungan dan pengeroyokan brutal menimpa N, siswi kelas 9 MTs Maripari, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Korban dihujani kekerasan fisik oleh sejumlah remaja perempuan yang tak lain merupakan temannya sendiri. Sekolah mengonfirmasi, motif di balik aksi penganiayaan ini terpicu perselisihan asmara remaja alias “cinta monyet”.
Aksi main hakim sendiri itu membuncah setelah rekaman videonya beredar luas di media sosial. Dalam video berdurasi singkat tersebut, N tampak tak berdaya menerima pukulan, tamparan berkali-kali, jambakan, hingga jambretan kerudung. Para pelaku bahkan tega menginjak, mencakar, dan menendang korban hingga tersungkur ke tanah. Akibatnya, N mengalami luka-luka di sekujur tubuh, terutama pada area wajah dan perut.
Ditemui di kediamannya di Kampung Munjul, Desa Sukawening, Rabu, 9 September 2026, N mengaku masih meringis kesakitan. Trauma fisik dan psikis mendalam memaksa siswi berusia belasan tahun itu meliburkan diri dari aktivitas belajar di sekolah.
Ibu korban, Desi Mandalasari, meradang atas penganiayaan yang menimpa putrinya. Ia menegaskan tidak terima dengan perlakuan keji para pelaku terhadap anaknya.
”Orang tua sendiri tidak pernah berani melakukan kekerasan seperti itu kepada anak. Kami menyekolahkan anak supaya mendapatkan pendidikan yang baik, bukan malah mendapat perlakuan seperti ini,” kata Desi.
Pihak sekolah tak menampik adanya insiden berdarah tersebut. Kepala MTs Ma’arif Maripari, Saep Munawar, menyebut konflik ini bermula dari keretakan hubungan pertemanan yang diperkeruh urusan asmara remaja.
”Permasalahan ini dipicu dari cinta monyet. Mereka sebelumnya berteman, tetapi kemudian hubungan mereka menjadi renggang hingga akhirnya terjadi kekerasan fisik,” ujar Saep.
Saep menjelaskan, korban dan kelompok pelaku sebenarnya saling kenal dan berada dalam lingkaran pergaulan yang sama. Namun, benturan emosi remaja mengubah dinamika pertemanan itu menjadi aksi kekerasan yang melampaui batas. (Yuyus)



.png)











