GOSIPGARUT.ID — Keterbatasan infrastruktur jalan masih melumpuhkan akses pelayanan kesehatan bagi warga Kampung Ciparay, Desa Sukarame, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut. Demi mencapai fasilitas medis, warga setempat terbiasa menandu pasien sejauh 10 kilometer melintasi jalur darat yang tak bisa dilalui kendaraan roda empat.
Tujuan utama warga adalah Puskesmas Sukarame yang berlokasi di Desa Purbayani, Rancabuaya. Jarak total dari Kampung Ciparay menuju puskemas tersebut mencapai 25 kilometer. Namun, akses jalan yang memadai untuk roda empat hanya tersedia sepanjang 15 kilometer, terhenti di Kampung Cidomas.
Warga setempat, Mamat Rahmat, mengungkapkan bahwa ambulans atau mobil siaga desa hanya sanggup mengantar dan menjemput pasien hingga Kampung Cidomas. Selebihnya, perjalanan dilanjutkan secara manual dengan menandu pasien menembus jalur terjal selama tiga hingga empat jam perjalanan kaki.
”Ambulans atau mobil siaga desa yang bisa mengantar dan menjemput pasien hanya bisa sampai ke Kampung Cidomas. Setelahnya, kami terpaksa membawa pasien menggunakan tandu,” kata Mamat kepada GOSIPGARUT.ID, Selasa, 8 September.
Praktik menandu pasien ini bukan cerita baru. Mamat menyebut kondisi memprihatinkan ini telah berlangsung selama puluhan tahun, bahkan sejak pemukiman tersebut pertama kali berdiri. Dalam empat bulan terakhir saja, sedikitnya ada enam pasien yang harus ditandu warga menuju puskesmas untuk mendapatkan pertolongan medis.

Kendati tak memegang data pasti jumlah pasien yang dievakuasi setiap tahunnya, Mamat tak menampik rasa cemas yang terus membayangi warga. Khawatir mereka bukan lagi soal kelelahan fisik akibat berjalan kaki belasan kilometer, melainkan risiko keselamatan jiwa pasien dalam kondisi kritis akibat lambatnya penanganan medis di jalan.
Pengalaman getir itu dialami sendiri oleh Mamat belum lama ini saat harus menandu sang istri yang hendak melahirkan. “Beberapa hari lalu, saya membawa istri bersalin, dan nyaris melahirkan di perjalanan,” ujarnya.
Kampung Ciparay saat ini dihuni oleh sekitar 500 kepala keluarga (KK). Selama berpuluh-puluh tahun, warga berupaya membuka keterisolasian secara swadaya dengan membangun jalan secara mandiri. Namun, upaya tersebut terus terbental kendala tingginya biaya pengadaan bahan bangunan yang harus diangkut ke wilayah mereka.
Hingga kini, janji pemerataan pembangunan infrastruktur dasar belum sepenuhnya menyentuh kawasan pelosok Garut Selatan ini. Warga hanya bisa bertahan sembari menanti perhatian serius dari pemerintah daerah setempat.
“Selama puluhan tahun kami bersabar, berharap semua pihak dapat memperhatikan kondisi kampung kami,” pungkas Mamat. (April P)



.png)











