GOSIPGARUT.ID — Pernyataan Wakil Bupati Garut Putri Karlina yang mengakui belum mampu menghadirkan perubahan signifikan selama satu tahun masa kepemimpinannya menuai sorotan luas. Pengakuan tersebut disampaikan secara terbuka di hadapan jajaran birokrasi dan aparatur sipil negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Garut, Senin (23/2/2026).
“Saya sudah bisa mengevaluasi diri saya sendiri bahwa saya gagal dalam satu tahun ini. Saya pribadi gagal, tidak ada perubahan yang signifikan. Saya mengakui, saya memohon maaf,” ujar Putri Karlina dalam forum tersebut.
Pernyataan itu dinilai sebagai fenomena langka dalam dinamika kepemimpinan daerah. Pemerhati kebijakan publik Oos Supyadin, SE, MM, menilai pengakuan kegagalan yang disampaikan secara terbuka oleh unsur pimpinan kepala daerah merupakan sikap yang tidak biasa.
“Hampir seluruh media di Garut saat ini menyoroti pernyataan Ibu Putri Karlina. Pengakuan seperti ini jarang terjadi, apalagi disampaikan langsung di hadapan jajaran birokrasi,” kata Oos dalam keterangannya, Selasa (24/2/2026)
Menurut dia, pengakuan tersebut tidak dapat serta-merta dimaknai sebagai kelemahan. Justru, sikap itu mencerminkan kekuatan karakter seorang pemimpin.
Oos memandang, ada sejumlah nilai atau spirit kepemimpinan yang dapat dibaca dari pernyataan tersebut.
Pertama, integritas dan kejujuran. Ia menilai, pemimpin yang berani mengakui kegagalan menunjukkan sikap autentik dan mendahulukan kebenaran daripada menjaga citra pribadi.
Kedua, kerendahan hati. Mengakui kesalahan, kata Oos, membutuhkan kesadaran bahwa seorang pemimpin tetap manusia yang memiliki keterbatasan.
Ketiga, tanggung jawab dan akuntabilitas. Menurut dia, pemimpin yang mengambil tanggung jawab atas capaian maupun kekurangan kinerja akan lebih mudah membangun kepercayaan publik.
Keempat, orientasi pada pembelajaran. Oos menilai kegagalan seharusnya dipandang sebagai bagian dari proses untuk melakukan perbaikan ke depan.
Kelima, keberanian. “Mengakui kesalahan di depan publik membutuhkan mental yang kuat. Itu bukan hal mudah,” ujarnya.
Keenam, membangun keamanan psikologis dalam organisasi. Dengan keterbukaan pimpinan, menurut Oos, aparatur di bawahnya akan merasa lebih aman untuk berinovasi tanpa takut disalahkan ketika menghadapi kendala dalam proses kerja.
Dalam persepsi publik, lanjut Oos, pengakuan yang disampaikan secara tulus dapat menghadirkan nilai positif. Sikap tersebut berpotensi meningkatkan penghargaan dari bawahan maupun masyarakat, sekaligus mendorong budaya kerja yang lebih transparan.
Ia berharap momentum refleksi tersebut menjadi titik balik untuk memperkuat komitmen kepemimpinan di Kabupaten Garut.
“Semoga Garut benar-benar memiliki pemimpin yang berkarakter, berintegritas, jujur, amanah, dan bertanggung jawab, sehingga visi pembangunan tidak sekadar menjadi slogan, tetapi terwujud dalam kerja nyata,” kata Oos. ***



.png)









