GOSIPGARUT.ID — Sebuah video seorang nenek asal Kampung Cipicung, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, mendadak viral di media sosial. Dalam video tersebut, sang nenek menyampaikan keluhannya kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terkait tanah miliknya yang sudah 35 tahun dikuasai PDAM Tirta Intan tanpa adanya penyelesaian yang jelas.
Dalam video berdurasi 30 menit 20 detik itu, sang nenek mengaku tanah tersebut awalnya digunakan PDAM untuk membuat sumur bor sebagai sumber air bersih bagi masyarakat, termasuk masjid-masjid di wilayah sekitar. Namun seiring berjalannya waktu, pemanfaatan air itu berubah menjadi komersial.
“Awalnya untuk masyarakat, untuk masjid-masjid. Sekarang air itu dijual, sudah mengalir sampai dua kecamatan: Banyuresmi dan Leuwigoong,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ia menegaskan bahwa tanah yang dipakai PDAM adalah miliknya secara sah. Bahkan, menurutnya, pihak PDAM telah mengakui hal tersebut. Meski demikian, selama puluhan tahun tidak ada ganti rugi, tidak ada kesepakatan baru, dan tidak ada penjelasan berarti dari pihak manapun.
“Penghasilan PDAM besar, ratusan juta tiap tahun dari air ini. Tapi Emak sengsara. Rumah mau roboh, bahkan sudah roboh. Katanya desa dapat pemasukan, tapi kenapa yang punya tanah malah begini?” ucapnya.
Dalam video itu, sang nenek mengaku telah berulang kali mengadu ke pemerintah desa, kantor PDAM, hingga berbagai pihak lain. Namun usahanya tidak pernah membuahkan hasil.
“Lebih dari 35 tahun Emak ngurus ini, ke sana kemari, nggak ditanggapi. Emak sudah capek, sudah tua. Emak ini juga ngurus anak yatim piatu yang sakit,” tuturnya sambil memperlihatkan kondisi rumahnya yang nyaris ambruk.
Ia mengatakan, dirinya hanya ingin kembali mendapatkan hak atas tanah tersebut agar dapat memperbaiki rumah dan bertahan hidup.
“Emak bukan mau mengambil yang lain. Emak cuma mau tanah ini. Bukan bohong, hanya untuk bangun rumah dan makan sehari-hari saja sudah susah,” tambahnya.
Di akhir video, sang nenek memohon langsung kepada Gubernur Dedi Mulyadi untuk membantunya menyelesaikan persoalan yang tak kunjung berakhir ini.
“Mohon bantuan, Pak Haji. Emak sudah ke mana-mana, tidak ada hasil. Tolong sampaikan ke semuanya. Emak sudah lelah,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, PDAM Tirta Intan maupun pemerintah desa setempat belum memberikan keterangan resmi terkait viralnya permintaan bantuan tersebut. Video ini memicu perhatian publik yang menyoroti dugaan ketidakadilan dalam pemanfaatan lahan serta hak-hak warga yang terabaikan. (JMB)



.png)























