Berita

Hari Ini Menyapa Warga Garut, Kirab Mahkota Binokasih Jadi Pengingat Keras Dedi Mulyadi soal Kerusakan Alam

×

Hari Ini Menyapa Warga Garut, Kirab Mahkota Binokasih Jadi Pengingat Keras Dedi Mulyadi soal Kerusakan Alam

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dalam unggahan video.

GOSIPGARUT.ID — Kirab Mahkota Binokasih Pajajaran hari ini, Selasa (5/5/2026), menyapa warga Kabupaten Garut. Prosesi budaya tersebut berlangsung dari halaman Korem menuju Kantor Bupati Garut dan akan disambut antusias masyarakat di sepanjang rute.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa kirab ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk mengingat kembali nilai-nilai keseimbangan antara manusia dan alam.

Dalam pernyataannya melalui video yang dilihat GOSIPGARUT.ID, Selasa pagi, Dedi menyampaikan bahwa tema Pajajaran dan nilai-nilai kesundaan yang diusung dalam kirab memiliki makna mendalam, yakni mengembalikan alam sebagai fondasi utama kehidupan.

Baca Juga:   Hansen Construction Rampungkan Showroom BAIC di Pekanbaru, Siap Dukung Ekspansi Otomotif di Sumatera

“Ketika kita bicara Pajajaran, sesungguhnya kita sedang bicara tentang bagaimana manusia hidup selaras dengan alam. Tanpa alam, kita tidak punya tempat tinggal,” ujarnya.

Dedi menyoroti kondisi lingkungan di Jawa Barat yang dinilai semakin memprihatinkan. Menurutnya, bencana seperti banjir dan longsor tidak lepas dari kesalahan manusia dalam mengelola ruang dan sumber daya alam.

Dedi juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah merevisi tata ruang wilayah dengan mengacu pada filosofi Tritangtu di Buana, yang menekankan kesesuaian fungsi alam.

“Gunung harus tetap menjadi kawasan hutan, cekungan menjadi tempat air, dan dataran menjadi sawah. Itu prinsip dasar yang harus kita kembalikan,” katanya.

Baca Juga:   Gubernur Jabar Resmikan Rekonstruksi Situs Gunung Padang, Tegaskan Negara Wajib Hadir Jaga Warisan Leluhur

Dedi turut menyinggung kondisi Gunung Cikuray yang kini banyak beralih fungsi menjadi lahan pertanian sayur. Perubahan tersebut, kata dia, berdampak pada kerusakan lingkungan, termasuk banjir dan pendangkalan sungai.

Selain itu, Dedi mengaku menerima keluhan dari masyarakat adat Kampung Naga terkait Sungai Cibulannya yang sering meluap akibat sampah dan sedimentasi.

“Ini harus jadi perhatian kita semua. Kita hidup di pegunungan, dataran, dan pesisir. Kuncinya sederhana: jaga gunung, jaga sungai, jaga sawah, dan jaga laut,” tegasnya.

Baca Juga:   ACT Beri Bantuan Air Minum Wakaf kepada Petugas di Gedung Command Center Garut

Rangkaian kirab Mahkota Binokasih akan berlanjut ke Kabupaten Cianjur pada Rabu (6/5/2026). Setelah itu, kegiatan akan berlanjut ke Kota Bogor pada Jumat (8/5/2026), dengan rute dari Kebun Raya menuju Batutulis, yang dikenal sebagai pusat sejarah Pakuan Pajajaran.

Kirab ini diharapkan tidak hanya memperkuat nilai budaya dan sejarah, tetapi juga menjadi pengingat kolektif akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan di tengah meningkatnya tekanan terhadap alam. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *