GOSIPGARUT.ID — Suasana tenang di lereng selatan Garut, tepatnya di Desa Pamalayan, Kecamatan Cisewu, terusik oleh maraknya aksi pencurian hasil bumi. Para petani kini dihantui keresahan baru — bukan karena cuaca atau hama, melainkan tangan-tangan jahil yang menggasak buah kapolaga menjelang masa panen.
Aksi pencurian itu dialami langsung oleh Ade Leman, warga Kampung Heubeulisuk. Ia sempat bersemangat menyambut panen kapolaga pada Kamis (23/10/2025), namun rasa itu seketika berubah menjadi kecewa.
“Tadinya mau panen karena buahnya sudah tua. Tapi pas sampai di kebun, semuanya sudah hilang. Tinggal batang-batang bekas dipanen berserakan. Saya yakin dicuri beberapa hari sebelum saya datang,” ungkap Ade, Sabtu (25/10/2025).
Tak hanya dirinya, tetangganya Yoyo juga mengalami nasib serupa. Kapolaga di kebunnya raib entah ke mana, padahal sudah siap dipetik. Diduga kuat, para pelaku beraksi saat kebun sepi dan jauh dari pengawasan warga.
Ade mengaku, dalam satu kali panen ia biasanya menghasilkan sekitar 10 kilogram kapolaga kering. Dengan harga pasar saat ini mencapai Rp80 ribu per kilogram, kerugian yang dialaminya ditaksir mencapai Rp800 ribu.
“Lumayan besar bagi kami. Ini hasil dari berbulan-bulan menunggu panen,” keluh Ade.
Kapolaga, atau Amomum compactum, selama ini menjadi komoditas andalan petani di selatan Garut. Nilainya yang tinggi di pasaran membuat rempah beraroma khas itu tak hanya diburu pedagang, tapi juga menarik perhatian pencuri yang memanfaatkan kelengahan warga.
Meski kerugian mulai dirasakan banyak petani, hingga kini kasus pencurian tersebut belum dilaporkan secara resmi ke pihak kepolisian. Warga berharap aparat segera turun tangan untuk melakukan patroli dan pengawasan lebih ketat di area perkebunan.
“Kalau dibiarkan, lama-lama habis semua hasil kebun kami,” ujar seorang warga dengan nada cemas.
Kini, di tengah harapan panen yang seharusnya membawa rezeki, petani Cisewu justru harus berjaga lebih waspada agar hasil bumi mereka tak lagi lenyap digasak maling. ***



.png)











