Berita

Tokoh Garut Selatan Usul Skema Baru MBG: Uang Tunai Ganti Makanan Siap Saji

×

Tokoh Garut Selatan Usul Skema Baru MBG: Uang Tunai Ganti Makanan Siap Saji

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI -- Makan bergizi gratis.

GOSIPGARUT.ID — Kasus keracunan massal siswa akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memantik kritik. Oos Supyadin, tokoh Garut Selatan, menilai pola distribusi MBG dalam bentuk makanan olahan harus segera dievaluasi.

Menurutnya, solusi yang lebih aman adalah mengganti skema MBG dengan pemberian uang tunai langsung kepada orang tua siswa. Dengan begitu, orang tua bisa membelikan makanan bergizi sesuai selera anak, sehingga mereka benar-benar menikmati santapan dan terhindar dari risiko keracunan.

Baca Juga:   Kondisi Dua Pasien Positif Corona di Garut Membaik, Pemkab Tunggu Hasil Tes

“Kalau anak merasa makanan sesuai selera, mereka lebih lahap makan. Yang terpenting, aman dan nyaman bagi kesehatan mereka,” kata Oos, Minggu (21/9/2025).

Oos menilai konsep MBG saat ini terlalu rawan dimainkan oleh pihak-pihak tertentu. Ia bahkan menyebutnya sebagai praktik “serakahnomics” karena lebih menguntungkan pebisnis ketimbang menjamin gizi anak.

“Banyak kasus keracunan berulang kali. Kalau tidak segera diubah, program mulia ini bisa dicap gagal dan justru mencoreng marwah Presiden Prabowo Subianto,” ujarnya.

Baca Juga:   Wabup Helmi Budiman Minta Kasus Video Asusila Pasangan Muda-mudi Garut Diproses Hukum

Peran Orang Tua dan Sekolah

Dalam skema baru yang ia usulkan, orang tua diwajibkan membawakan bekal bergizi untuk anaknya setiap hari, dengan menu sederhana seperti nasi, lauk pauk (telur, ikan, tahu, tempe), sayur, buah, dan susu.

Jika ada orang tua yang tidak membekali anaknya, guru harus memberikan teguran. Bila tetap abai, kata Oos, dana MBG bulan berikutnya bisa ditahan, bahkan orang tua diwajibkan membuat surat pernyataan bermeterai.

Baca Juga:   Kisah Sedih Pejabat Disdik Survei SD di Garut Selatan, Mobil Mogok dan Tidur di Sekolah

“Ini bukan sekadar aturan, tapi komitmen bersama untuk menyelamatkan anak-anak dari ancaman kesehatan,” tegasnya.

Oos menutup pernyataannya dengan seruan agar pemerintah segera mengevaluasi sistem MBG dan berani mengambil keputusan strategis demi masa depan bangsa.

“Selamatkan generasi bangsa agar menjadi generasi yang sehat, kuat, dan pintar,” pungkasnya. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Respon (1)

  1. Pendapat Ahok soal program MBG patut dipertimbangkan. Ia menawarkan pendekatan yang lebih manusiawi, efisien, dan berdampak luas bagi keluarga serta perekonomian lokal.

    Alih-alih memberikan makanan siap saji melalui dapur umum, bantuan disalurkan langsung ke orang tua dalam bentuk kartu elektronik, yang hanya bisa digunakan untuk membeli makanan bergizi di warung atau toko yang sudah ditentukan. Pendekatan ini diyakini lebih aman untuk kesehatan siswa, tepat sasaran, mengurangi potensi kebocoran anggaran, dan sekaligus menstabilkan harga bahan pokok.

    💡 Pokok-Pokok Gagasan Program MBG versi Ahok:

    Bantuan berupa uang, bukan makanan siap saji

    Pemerintah mentransfer dana langsung ke kartu elektronik milik orang tua siswa. Dana ini hanya bisa dibelanjakan untuk membeli makanan bergizi di lokasi yang telah ditetapkan. Dengan cara ini, bantuan jadi lebih fleksibel, aman, dan sesuai kebutuhan gizi anak.

    Menghidupkan ekonomi lokal

    Orang tua bisa membelanjakan dana MBG di warung, toko kelontong, atau UMKM lokal. Ini membantu menumbuhkan ekonomi masyarakat sekitar, bukan hanya menguntungkan perusahaan katering besar. Program ini juga bisa menciptakan lapangan kerja dan mengurangi ketimpangan ekonomi.

    Memberdayakan peran orang tua

    Program ini memberi kepercayaan kepada orang tua untuk memilih atau menyiapkan makanan terbaik bagi anaknya. Dengan begitu, keluarga tidak hanya menjadi penerima bantuan pasif, tetapi juga bagian aktif dari solusi.

    Lebih fleksibel dan bermartabat

    Anak tidak harus makan makanan yang sama setiap hari dari dapur umum. Keluarga bisa menyesuaikan jenis makanan dengan selera, kebutuhan gizi, atau alergi anak. Ini menjadikan program lebih manusiawi dan adil, serta selaras dengan konteks sosial-budaya masing-masing keluarga.

    Menjaga stabilitas harga bahan pokok

    Pengadaan besar-besaran oleh dapur umum seringkali menyebabkan harga bahan pokok melonjak. Hal ini justru menyulitkan masyarakat luas yang membutuhkan bahan serupa. Dengan pola distribusi langsung ke keluarga, permintaan menjadi lebih merata, dan harga pasar bisa lebih stabil.

    🔄 Contoh Mekanisme Sederhana:

    Pemerintah menetapkan nilai bantuan (misalnya Rp15.000 per anak per hari).

    Dana ditransfer ke kartu pintar milik orang tua siswa.

    Orang tua membelanjakan dana di warung mitra yang sudah ditunjuk.

    Warung menerima pembayaran secara digital dan mengajukan klaim penggantian ke pemerintah.

    📝 Kesimpulan:

    Program MBG versi Ahok membawa pendekatan baru yang menggabungkan unsur efisiensi anggaran, pemberdayaan keluarga, penguatan ekonomi lokal, dan keadilan sosial. Konsep ini layak dipertimbangkan lebih lanjut sebagai bagian dari reformasi kebijakan bantuan gizi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *