GOSIPGARUT.ID — Hingga awal abad ke-20, warga Garut yang jatuh sakit nyaris tak punya pilihan selain berobat ke klinik darurat milik Stadpolitie di tepi Jalan Tjiamoek Rivier Weg—kini dikenal sebagai Jalan Cimanuk. Klinik sederhana itu digagas dua dokter Belanda, dr. Mulder dan dr. Stiohtor, dengan ruang praktik umum di Gedung Padang Bulan, yang kini berdiri Bank BJB di Jalan A. Yani.
Perubahan besar baru terjadi setelah keluar Besluit No. 10279 tanggal 19 Juli 1921, yang diteken Gubernur Jenderal D. Fock dan Sekretaris Jenderal G.R. Erdfrink atas nama Ratu Wilhelmina. Sejak itu, pembangunan di Priangan digenjot: jalan raya, saluran air, pasar rakyat, jembatan, hingga lampu jalan.
Tak ketinggalan di Garut, sebuah rumah sakit umum (algemeen zieken huis) mulai dirintis di kawasan strategis yang dikepung tiga sungai: Cimanuk, Cipeujeuh, dan Cikamiri. Bangunan megah itu resmi berdiri pada Maret 1922, diresmikan langsung oleh Gubernur Jenderal Dirk Fock, disaksikan Bupati Garut kala itu, R.A.A. Soeria Karta Legawa.
Wabah Pes dan Lahirnya Nama dr. Slamet
Belum genap satu dekade setelah rumah sakit itu berdiri, Garut diguncang tragedi. Wabah pes melanda pada 1930, menewaskan ribuan warga. Kampung-kampung dengan rumah bilik bambu, lantai tanah, dan atap ijuk menjadi sarang tikus penyebar bakteri pes. Pemerintah Hindia Belanda pun menetapkan Garut sebagai daerah bencana nasional.
Di tengah situasi genting itu, muncul nama dr. Slamet Atmosoediro, kepala RSU Garut yang ditugaskan memimpin tim pemberantasan wabah. Bersama sejumlah mantri kesehatan, ia berjuang menekan penyebaran penyakit. Sayang, upaya itu menelan korban: salah satu rekannya, Mantri Kesehatan Mas Iyas, ikut terjangkit dan meninggal dunia.
Sebagai respons, pemerintah kolonial menerbitkan aturan ketat soal pembangunan rumah. Dinding rumah harus separuh tembok, lantai dipanggung dengan papan setinggi lutut, dan atap ijuk diganti genteng. Bahkan, warga yang ingin memperbaiki rumahnya diberi bantuan pinjaman bank asal memenuhi syarat teknis kesehatan.
Dari Masa Kolonial ke Republik
Dr. Slamet sendiri wafat tak lama setelah masa-masa sulit itu. Kepemimpinan rumah sakit kemudian dilanjutkan oleh dr. H.R. Parjono Soerio Dipoero, pindahan dari RS Tasikmalaya, yang menjabat hingga 1945. Namun, jasa besar dr. Slamet memberantas pes tetap dikenang.
Baru pada 1979, pemerintah Indonesia lewat Surat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 51/Men.Kes/SK/II/79, resmi mengabadikan namanya sebagai RSU dr. Slamet Garut. Nama itu melekat hingga kini, menjadi pengingat bahwa di balik bangunan rumah sakit modern di pusat kota, tersimpan sejarah panjang perjuangan melawan wabah mematikan seabad lalu. ***



.png)















