GOSIPGARUT.ID — Pengumuman 10 besar calon pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Garut periode 2026–2031 memantik respons dari peserta yang gugur. Alimudin, salah satu pendaftar yang terhenti langkahnya, mendesak 10 kandidat tersisa untuk menjaga ketat integritas dan profesionalisme hingga fase akhir kontestasi.
Alimudin menyampaikan ucapan selamat kepada para peserta yang melenggang ke tahap penentuan. Namun, ia mengingatkan bahwa lolosnya 10 nama ini bukan sekadar ajang bagi-bagi kursi, melainkan ujian berat untuk membuktikan kelayakan mengelola dana umat di Kabupaten Garut.
”Selamat kepada 10 peserta yang telah dinyatakan lolos ke tahap berikutnya. Semoga Allah SWT memberikan kelancaran, kekuatan, kesehatan, dan hasil terbaik,” kata Alimudin, Jumat, 4 September 2026.
Rangkaian seleksi pimpinan lembaga zakat ini menyaring belasan pendaftar melalui uji berkas, tes tertulis, hingga pemaparan makalah. Tim Seleksi bentukan Pemerintah Kabupaten Garut menyusutkan nama-nama kandidat sebelum nantinya diserahkan kepada Baznas RI dan Bupati Garut untuk penetapan lima pimpinan definitif.
Di tengah sengitnya persaingan, Alimudin menilai proses ini sebagai ruang adu gagasan atas sengkarut pengelolaan zakat daerah. Ia mengapresiasi Timsel, Pemkab Garut, jajaran kiai, serta peserta lain yang berpartisipasi dalam proses tersebut.
”Setiap doa, pesan, dukungan, nasihat, dan perhatian yang diberikan menjadi kekuatan serta motivasi bagi saya untuk terus berikhtiar dan memberikan yang terbaik,” ujarnya.
Alimudin menekankan, kegagalan melangkah ke 10 besar tidak mengurangi urgensi dorongan reformasi tata kelola zakat di Garut. Menurutnya, seluruh peserta—baik yang lolos maupun gugur—telah melalui proses ikhtiar yang tidak mudah.
”Kita telah sama-sama berikhtiar, belajar, menyampaikan gagasan, dan berproses. Apa pun hasil akhirnya, semoga perjuangan tersebut menjadi pengalaman berharga,” tutur Alimudin.
Mantan peserta ini mewanti-wanti 10 kandidat agar tak menyalahgunakan amanah jika kelak terpilih. Pengelolaan zakat, infak, dan sedekah di Garut menurutnya menuntut transparansi radikal agar benar-benar berdampak pada pengentasan kemiskinan warga.
Ia menyatakan siap menerima keputusan Timsel dengan lapang dada tanpa menyisakan perselisihan. Bagi Alimudin, komitmen membangun kemaslahatan masyarakat jauh lebih penting dibanding status jabatan semata.
”Bukan tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi tentang bagaimana niat baik, ikhtiar, dan perjuangan kita dapat terus memberikan manfaat,” tegas Alimudin.
Kini, bola panas berada di tangan Timsel dan pimpinan daerah untuk menyaring lima nama terbaik. Publik Garut menunggu apakah figur terpilih kelak mampu membuktikan janji transparansi atau sekadar mengulang pola lama. (Yuyus)



.png)









