GOSIPGARUT.ID — Wakil Bupati Garut Putri Karlina mengungkap persoalan yang membuat pelayanan di RSUD dr. Slamet Garut masih perlu dibenahi. Bukan hanya kondisi sejumlah ruangan yang dinilai belum ideal, kapasitas ICU yang terbatas turut berdampak pada ketersediaan tempat tidur perawatan dan kepadatan pasien di Instalasi Gawat Darurat atau IGD.
Hal itu disampaikan Putri saat meninjau RSUD dr. Slamet bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Leli Yuliani. Percakapan keduanya terekam dalam video yang diunggah Putri melalui akun TikTok pribadinya dan ditonton GOSIPGARUT.ID, Kamis 27 Agustus 2026..
Dalam video tersebut, Putri dan Leli membahas kondisi sejumlah ruang perawatan. Leli mengatakan beberapa ruangan sebelumnya dalam kondisi gelap dan pengap karena belum dilengkapi pendingin ruangan serta memiliki persoalan sirkulasi dan pencahayaan.
“Besok ada AC, sirkulasi dan pencahayaan lebih bagus. Enggak muel-kebek begini,” ujar Putri.
Pembenahan juga menyasar kebersihan dan kamar mandi. Menurut Leli, pemerintah memprioritaskan perbaikan fasilitas tertentu, termasuk ruang ICU.
Putri kemudian berbincang dengan keluarga pasien. Pasien tersebut menjalani operasi usus akibat penyumbatan dan telah dirawat selama lima hari. Keluarga pasien mengatakan pelayanan yang diterima cukup baik dan pasien sudah dalam kondisi membaik.
Percakapan itu menunjukkan persoalan RSUD dr. Slamet tidak semata-mata menyangkut pelayanan medis. Kondisi fisik bangunan juga masih menjadi pekerjaan rumah.
“Kalau bangunan mohon maaf ya, masih ada yang rada… ini juga masih berbenah,” kata Putri kepada keluarga pasien.
ICU Terbatas, IGD Ikut Penuh
Persoalan yang lebih kompleks muncul ketika Putri dan Leli membahas kapasitas tempat tidur. Leli menjelaskan rumah sakit tidak bisa sekadar menambah bed perawatan tanpa memperhitungkan kapasitas ICU.
Menurut dia, satu tempat tidur ICU berkaitan dengan kebutuhan sekitar 15 hingga 18 tempat tidur perawatan. Dengan penambahan lima bed ICU, kapasitas tempat tidur perawatan diperkirakan dapat bertambah sekitar 60 bed.
Penambahan tersebut dinilai penting untuk mengurai kepadatan pasien di IGD. Pasien yang telah mendapat penanganan di IGD membutuhkan ruang perawatan lanjutan. Jika bed tidak tersedia, pasien dapat tertahan di IGD.
“Kenapa IGD banyak penuh, ketahan? Ya memang karena ruangannya enggak ada, enggak ada bed-nya,” ujar Putri.
Leli mengatakan terdapat sejumlah bangunan yang belum dapat digunakan untuk menambah kapasitas rumah sakit. Persoalannya bukan semata-mata kemauan rumah sakit, melainkan aturan dan persyaratan yang harus dipenuhi.
Putri pun menekankan bahwa masyarakat perlu memahami persoalan tersebut.
“Rumah sakit tuh sekarang enggak bisa asal ngebangun ruang, enggak bisa asal nambah bed,” katanya.
Target Penambahan ICU pada 2027
Pemerintah Kabupaten Garut tengah mempersiapkan rencana penambahan kapasitas ICU dan tempat tidur perawatan pada 2027. Leli berharap dukungan pimpinan daerah dapat dituangkan melalui surat resmi agar rencana tersebut dapat diproses sejak awal tahun.
Penambahan fasilitas juga berkaitan dengan layanan peserta BPJS Kesehatan. Leli menjelaskan rumah sakit dapat melayani pasien umum, tetapi penggunaan fasilitas tambahan untuk pasien BPJS membutuhkan proses kredensialing.
“Kalau BPJS, ya itulah,” kata Putri menanggapi penjelasan tersebut.
Di sisi pembiayaan, Putri menjelaskan pendapatan rumah sakit melalui mekanisme BLUD harus dikembalikan untuk kebutuhan pengembangan rumah sakit. Dana tersebut tidak dapat dengan bebas dialihkan untuk membiayai kebutuhan lain di luar rumah sakit.
“PAD yang didapat rumah sakit ya buat ngebangun dirinya sendiri,” ujar Putri.
Putri mengakui masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di RSUD dr. Slamet. Pembenahan mencakup pelayanan pasien, kesejahteraan sumber daya manusia, administrasi, organisasi, hingga renovasi bangunan.
“Kami berproses menuju lebih baik,” kata dia.
Pemerintah Kabupaten Garut kini menghadapi pekerjaan ganda: memperbaiki fasilitas yang ada sekaligus menambah kapasitas layanan. Keterbatasan ICU, menurut penjelasan dalam video tersebut, menjadi salah satu simpul persoalan yang berpengaruh terhadap ketersediaan tempat tidur dan kepadatan pelayanan di IGD. ***



.png)
















