GOSIPGARUT.ID — Narasi kebencian terhadap Habaib atau keturunan Rasulullah SAW kembali menyeruak di tengah masyarakat. Fenomena ini sejatinya bukan hal baru dalam sejarah bangsa Indonesia. Tiga dekade lalu, tepatnya pada tahun 1993, isu serupa pernah mengguncang umat Islam setelah pernyataan kontroversial dari tokoh penting Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Pada tahun 1993, KH. Hasan Basri yang saat itu menjabat Ketua MUI menyampaikan pernyataan yang memicu kegaduhan nasional. Dalam wawancaranya dengan Harian Terbit, ia menyebutkan bahwa tidak ada lagi keturunan Rasulullah SAW di dunia, termasuk di Indonesia, karena garis keturunan Hasan dan Husein disebut telah terputus.
Pernyataan tersebut mendapat kecaman luas dari kalangan ulama dan Habaib. Habib Al Habsy dari Kwitang segera menugaskan Habib Nauval bin Jindan untuk membela kehormatan nasab Rasulullah SAW yang selama ini dihormati di Nusantara.
Di tengah situasi memanas itu, muncul sosok Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) yang kala itu berada di Pesantren Al-Fachriyah, Ciledug pada tahun 1994. Dengan lantang, Gus Dur menyatakan bahwa kehadiran para Habaib di Indonesia adalah “karunia Tuhan yang harus disyukuri.”
Gus Dur bahkan menegaskan bahwa kecintaannya kepada Habaib merupakan warisan dari sang kakek, pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Hasyim Asy’ari. “NU dan Habaib itu seperti adzan dan beduk, tak bisa dipisahkan,” ungkap Gus Dur dalam salah satu humornya yang khas namun penuh makna.
Kebencian yang dialamatkan kepada Habaib tampaknya terus berulang dalam desain yang berbeda namun dengan motif serupa: menjauhkan umat Islam Indonesia dari kecintaannya kepada keturunan Rasulullah SAW. Fenomena ini kembali terasa di era kini, seiring meningkatnya ujaran kebencian dari oknum yang mengatasnamakan kelompok umat, namun justru menyebarkan fitnah dan permusuhan.
Tokoh Garut prihatin
Isu ini kembali bergema di tengah masyarakat Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Barat. Di Garut, tokoh umat seperti Kang Oos Supyadin SE MM — pendiri Forum Silaturahim Assatiidz Garut (Forsiaga) — menyuarakan keprihatinannya atas munculnya sikap dan narasi yang menjurus pada pembenturan antarumat Islam.
Melalui tulisan reflektifnya, Kang Oos mengajak umat Islam untuk memegang teguh nilai Islam Rahmatan Lil’alamin dan menjauhi sikap kebencian, fitnah, maupun radikalisme. Ia menegaskan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah dan menghormati dzurriyyah Nabi sebagai bagian dari ajaran Islam yang beradab.
Sejarah membuktikan bahwa saat fitnah mencoba memecah umat, selalu ada tokoh yang berdiri untuk menyatukannya. Gus Dur adalah contoh nyata bagaimana cinta, ilmu, dan humor bisa menjadi benteng bagi persatuan umat. Kini, tugas itu berada di tangan generasi penerus — untuk menjaga warisan akhlak, adab, dan persaudaraan Islam di tengah arus ujaran kebencian yang makin deras. ***



.png)























