GOSIPGARUT.ID — Sejarah Kabupaten Garut tidak dapat dilepaskan dari jejak panjang peradaban Sunda yang membentang sejak masa Kerajaan Pakuan Pajajaran hingga era pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pemerhati kesejarahan dan budaya Garut, Oos Supyadin SE, MM, yang juga merupakan penasehat Paguyuban Asgar Buana Nusantara Ngahiji, mengungkap alur historis terbentuknya wilayah Garut.
“Titik tolak sejarah Garut berakar kuat pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi, saat wilayah ini dikenal dengan nama Galih Pakuan dan menjadi bagian dari Kerajaan Sunda,” ujar Oos Supyadin.
Dalam masa kejayaannya, Galih Pakuan mencakup wilayah-wilayah seperti Cangkuang, Sudalarang, Mandala Puntang, Kadangwesi, Batuwangi, dan Sancang. Namun, dominasi Pajajaran mulai melemah ketika Cirebon yang dipimpin Sunan Gunung Djati—cucu Prabu Siliwangi dari Dewi Rara Santang — memisahkan diri dan secara bertahap merebut wilayah kekuasaan Pajajaran.
Setelah Pajajaran runtuh, lanjut Oos, Cirebon membentuk pemerintahan berbasis agama yang terbagi dalam empat kesultanan, yaitu:
1. Kesultanan Pajajaran (Pangeran Cakrabuana/Raden Kean Santang)
2. Kesultanan Jayakarta (Fatahilah)
3. Kesultanan Banten (Sultan Maulana Hasanudin)
4. Kesultanan Tegal (Pangeran Raja Sengara)
“Proses Islamisasi wilayah Garut juga tak lepas dari peran Raden Kean Santang, sebagaimana dijelaskan Sulaeman Anggapraja dalam penelitiannya pada 1977,” tambahnya.
Berdasarkan olahan berbagai sumber sejarah, Oos Supyadin memetakan perkembangan wilayah Garut dalam tujuh fase penting:
1. Garut di bawah Kerajaan Pajajaran (Galih Pakuan)
2. Garut di bawah Kerajaan Cirebon, saat Liman Sanjaya diangkat sebagai Adipati Limbangan
3. Garut di bawah Sumedang Larang yang berada dalam pengaruh Kerajaan Mataram hingga akhirnya wilayah Priangan Timur diserahkan kepada VOC melalui perjanjian tahun 1677 dan 1705
4. 5 September 1813, ibu kota Kabupaten Limbangan dipindah ke Suci (Karangpawitan)
5. 1813–1821, Bupati RAA Adiwijaya membangun infrastruktur pemerintahan baru dan menanamkan nama “Garut” yang diyakini berasal dari pohon Ki Garut (Gaharu), bukan dari istilah “kakarut” seperti versi populer
6. Tahun 1821, ibu kota Kabupaten Limbangan dipindahkan ke Garut
7. 1 Juli 1913, berdasarkan Staatsblad tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan resmi diubah menjadi Kabupaten Garut dengan Bupati pertama RAA Wiratanudatar VIII. Saat itu, jumlah penduduk sekitar 500 ribu jiwa yang tersebar di delapan distrik: Bungbulang, Cikajang, Bayongbong, Garut, Limbangan, Leles, Cibatu, dan Tarogong.
“Perjalanan sejarah ini penting untuk terus digali dan dikaji. Garut menyimpan kekayaan sejarah dan budaya yang tak ternilai, dan menjadi warisan penting bagi generasi mendatang,” tutup Oos Supyadin.
Catatan sejarah ini tidak hanya memperkuat identitas kultural Garut, tetapi juga menjadi bahan refleksi atas dinamika sosial, politik, dan spiritual yang membentuk wajah daerah hingga saat ini. ***



.png)











