Berita

Antisipasi Serangan Babi Hutan, Petani di Cikelet Garut Berjaga Sepanjang Malam

×

Antisipasi Serangan Babi Hutan, Petani di Cikelet Garut Berjaga Sepanjang Malam

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI -- Serangan babi hutan.

GOSIPGARUT.ID — Menjelang panen, petani di Blok Muara Cipasarangan, Desa/Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, siaga melakukan jaga malam di kebun miliknya. Jika tidak, tanaman berupa singkong, jagung, kacang tanah, dan padi bisa habis dalam satu malam karena serangan babi hutan.

Babi hutan yang menyerang tanaman petani datang pada malam hari secara bergerombol, jumlahnya pun mencapai ratusan. Tidak heran, jika petani lengah menjaga kebun miliknya, babi hutan akan memporak-porandakan tanaman milik petani.

Salah seorang petani asal Desa Cikelet, Supriatna menyebutkan gerombolan babi hutan yang menyerang tanaman milik petani akibat habitatnya di hutan habis dipakai lahan pertanian.

Baca Juga:   Pemkab Garut Tetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla

“Babi hutan itu turun ke lahan pertanian warga karena habitatnya di hutan habis digunakan lahan pertanian. Kebetulan Blok Muara Cipasarangan berbatasan dengan hutan jati, jadi sering diserang gerombolan babi hutan,” ungkap Kepala SDN 3 Cijambe yang sukses menjadi petani tersebut.

Supriatna menambahkan, ketika musim kemarau kondisi lahan di hutan tandus karena kekeringan. Maka babi hutan akan mencari makanan ke lahan terdekat, yakni lahan pertanian warga.

“Jika lengah tidak dijaga dalam semalam semua tanaman habis bahkan ladang pohon pepaya milik kami juga porak poranda disundul gerombolan babi hutan,” ujarnya.

Baca Juga:   Viral Dugaan Pemotongan BLTS Kesra di Garut Selatan, Emak-emak Ngaku Haknya Dipangkas Rp500 Ribu

Menjelang musim panen, tutur Supriatna serangan hama bukan hanya datang dari gerombolan babi hutan karena banyak juga maling yang datang malam hari, memanen tanaman milik petani.

“Saya kan menanam bawang merah dan jagung, seminggu lagi masa panen. Jadi ya harus ekstra dijaga agar tidak dirusak gerombolan babi hutan dan maling,” kata dia.

Supriatna bersyukur dalam beberapa tahun terakhir hasil panen selalu melimpah. Panen bawang merah, jagung, padi, dan kacang tanah bisa meningkat hingga tiga kali lipat dari hasil pertanian sebelumnya.

Baca Juga:   Bittersweet Festival 2025 Hadir di FHI Jakarta, Selebrasi Fermentasi Nusantara yang Siap Mendunia

“Kebetulan anak saya lulusan sarjana pertanian, dia turun memberikan penyuluhan secara gratis kepada para petani di Desa Cikelet,” jelas dia.

Supriatna menambahkan, dengan penyuluhan itu petani bisa meningkatkan hasil produksi pertanian karena bercocok tanam tidak lagi tradisional tetapi diberikan ilmunya seperti cara membuat pupuk,memberikan pupuk ke tanaman, membuat obat-obatan dari bahan-bahan yang ada di sekitar sehingga hasil produksi pertanian meningkat pesat dibandingkan panen sebelumnya. (Ai Karnengsih)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *