GOSIPGARUT.ID — Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laskar Garut Mandiri (Lagam) Yudi Setia Kurniawan menyebutkan bahwa Bupati Garut Rudy Gunawan memiliki sikap bebal (tidak cepat menanggapi) terhadap persoalan serius yang saat ini menjadi sorotan publik, yaitu kemiskinan ekstrem dan perjalanan dinas pejabat ke luar negeri (LN) dengan anggran yang relatif besar.
Menurut dia, alih-alih diharapkan perjalanan dinas ke LN itu dievaluasi atau dihentikan, justru di saat Rudy Gunawan dituntut untuk lebih fokus menangani kemiskinan ekstrem, malah dikabarkan dalam waktu dekat akan kembali pergi melakukan perjalanan dinas ke Milan, Italia. Di sana, Bupati Rudy rencananya akan melaksanakan pameran produk hasil kulit Garut.
“Kami menilai Bupati Rudy Gunawan itu ‘bebal’ dan cenderung anti kritik, serta tidak peka terhadap kondisi masyarakat Garut kekinian. Rudy Gunawan lebih baik memilih pergi ke luar negeri ketimbang membelikan beras murah untuk rakyat,” ujar Yudi, saat dihubungi Kamis (14/9/2023).
Ia menuturkan, di tengah sorotan masyarakat Kabupaten Garut terkait kemiskinan ekstrem yang juga disorot oleh lembaga antirasuah (Komisi Pemberantasan Korupsi/ KPK) dan Kementrian Dalam Negeri, kini menurut informasi yang berkembang bahwa Bupati Rudy Gunawan akan melakukan perjalanan dinas ke Milan, Italia.
“Saya kira Bupati itu membandel. Meski sudah diingatkan KPK dan Kemendagri terkait kemiskinan ekstrem dan perjalanan dinas ke LN, namun tetap saja memaksakan diri untuk pergi. Apalagi maksud kepergiannya itu tidak begitu urgen,” kata Yudi.
Menurutnya, anggaran perjalanan dinas luar negeri itu lumayan besar dan sangat kontras dikeluarkan di saat masyarakat sulit mendapatkan beras murah. “Kemarin kan Bupati membagi-bagi beras murah, kenapa anggaran ke Milan tidak sekalian dibelikan beras untuk dibagikan kepada masyarakat? Kalau begitu, kan lebih bermanfaat,” tandas Yudi.
Ia menambahkan, semestinya Pemkab Garut atau Bupati Rudy Gunawan melihat ugensinya yaitu mengutamakan anggaran untuk kemiskinan yang menjadi prioritas, bukan sebalikya mengutamakan anggaran perjalanan dinas ke LN yang tiada lain sebagai anggaran poya-poya.
“Kebijakan Bupati itu harus didasarkan dengan tingkat urgensinya, yaitu lebih memikirkan perut rakyat yang sedang kelaparan ketimbang melakukan perjalanan dinas ke LN. Bupati itu harus lebih berempati kepada kepentingan masyarakat luas daripada kepentingan dirinya. Kalau begini buktinya, ia harus mengakui telah gagal memimpin Garut, terutama dalam hal mengentaskan kemiskinan,” pungkas Yudi. (Ai Karnengsih)



.png)











