GOSIPGARUT.ID — Pernyataan anggota Dewan Pendidikan, Dedi Kurniawan, bahwa sekolah di Kabupaten Garut memiliki siswa siluman atau fiktif sebagai sarana untuk menambang pundi-pundi rupiah dari biaya operasional sekolah (BOS), memunculkan beragam komentar.
Salah satu komentar yang konotasinya membantah datang dari Ketua PGRI Kecamatan Cisewu, Daryana. Menurut dia, yang juga kepala SDN Cisewu 1 ini, seluruh sekolah dasar (SD) di Kecamatan Cisewu tidak memiliki siswa siluman. Guna membuktikannya, bisa dicek secara faktual ke sekolah-sekolah.
“Dalam data pokok pendidikan (dapodik), jumlah siswa di 27 SD yang ada di Kecamatan Cisewu saat ini sebanyak 2748 orang. Jumlah sebanyak itu, saya jamin murni sesuai dengan fakta di lapangan. Sekarang, semua kepala SD berkomitmen untuk menggunakan data siswa asli dalam berbagai kepentingan,” kata Daryana, Kamis (16/12/2021).
Ia menjelaskan, para kepala SD di Kecamatan Cisewu yang umumnya “generasi muda” pantang sekali untuk menggelembungkan jumlah siswa dengan tujuan naiknya kuota BOS dari pemerintah. Sebab, menurut Daryana, hal itu merupakan perbuatan keji yang bisa berdampak pada rusaknya indeks pembangunan manusia (IPM).
“Tahun 2015 ke belakang memang betul ada beberapa SD yang begitu (memiliki siswa siluman), tapi sekarang oleh generasi muda (kepala sekolah) sudah tidak ada. Di sekolah saya saja yang memiliki 194 siswa, semuanya asli tidak ada silumannya,” ujarnya.
Senada dengan Daryana, disampaikan Korwil Pendidikan Kecamatan Cisewu, Agus Rajab. Menurutnya, tidak ada siswa siluman di sekolah-sekolah wilayah kerjanya. Pasalnya, untuk memunculkan siswa siluman dalam dapodik tersebut sangatlah susah.
“Sangat susah sekarang mah untuk menciptakan siswa siluman. Pasalnya, data siswa harus ada dalam kartu keluarga (KK), orangtuanya juga mesti memiliki NIK kartu tanda penduduk,” ucapnya. ***



.png)











