GOSIPGARUT.ID — Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, optimis bisa mensukseskan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pasca pandemi Covid-19, melalui sinergitas pertanian, peternakan dan wisata, melihat potensi luas lahan, sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang bisa dikembangkan di bidang itu.
Hal itu disampaikan Kepala Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Hidmat Wijaya, Kamis (25/3/2021). Menurutnya, luas wilayah Desa Mekarmukti mencapai 4000 Ha dihuni oleh 1200 kepala keluarga (KK), 70 persennya adalah lahan plasma (perkebunan lahan masyarakat).
“Kita optimis bisa memulihkan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Kita memiliki potensi, baik dari luas wilayah maupun tenaga kerja untuk mengolah lahan, karena mayoritas penduduk Desa Mekarmukti adalah petani. Namun saat ini kami masih terkendala sarana infrastruktur yang belum menjangkau seluruh wilayah, dan belum meratanya fasilitas pertanian (kartu tani) sehingga belum semua petani memiliki kartu tani. Hal ini berdampak pada pembelian pupuk,” paparnya.
Hidmat menjelaskan, saat ini pemerintah desa dibantu elemen masyarakat seperti kelompok tani, pemuda dan karang taruna, menggalakan penanaman pohon karet berikut tanaman tumpang sari serta program satu RW satu kelompok ternak.
“Selama ini masyarakat bukan tidak mau mengolah lahan tetapi terbentur tidak punya modal. Secara bertahap kita bantu baik dari mulai bibit karet, bibit ternak serta modal untuk mengolah lahannya. Kita galakkan juga dari generasi muda agar memiliki keahlian di bidang pertanian dan peternakan,” terangnya.
Hidmat menambahkan, alasan menanam pohon karet, selain menjaga keseimbangan alam (air dan udara) juga memiliki potensi ekonomi tinggi.
“Bagi kami, 1000 bibit karet lebih berharga dari menjadi pegawai negeri. Jika 1 Ha lahan ditanami 700 pohon karet, bisa menghasilkan 1 ton karet per bulan. Jika dikalikan harga Rp10 ribu per kilogram, maka petani bisa memperoleh penghasilan Rp10 juta per bulan dari karetnya. Belum lagi penghasilan dari tanaman tumpang sari, seperti pisang dan yang lainnya,” ujar dia.
Alasan lainnya, kata Hidmat, potensi ekonomi pohon karet bisa bertahan 35 tahun hingga 50 tahun asal baik cara “deres” (memanen karetnya) sehingga menanam pohon karet bisa diwariskan kepada anak cucu.
Ia berharap, pemerintah memberikan dukungan melalui pemberian bibit karet jenis Thailand serta membuka pabrik pengolahan karet di Kabupaten Garut untuk memangkas birokrasi (buyer) dalam penjualan karet. (Ai Respati)



.png)












