GOSIPGARUT.ID — Jumlah korban dugaan keracunan setelah menyantap hidangan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pesantren Al-Almansuriyah, Kampung Cigaluh, Desa Mekarsari, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, terus bertambah. Hingga Kamis (23/7/2026) siang, sekitar 100 orang dilaporkan mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Garut langsung menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah perangkat daerah untuk memastikan penanganan medis terhadap para korban berjalan optimal. Selain itu, bantuan kemanusiaan juga dijadwalkan disalurkan kepada para korban pada Kamis sore.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengatakan pemerintah daerah telah menginstruksikan seluruh dinas terkait bergerak cepat dalam menangani kejadian tersebut. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai.
“Kami sudah berkoordinasi dengan dinas terkait. Sore ini rencananya bantuan kemanusiaan akan disalurkan kepada para korban,” ujar Syakur.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Garut Nurdin Yana menjelaskan, laporan awal yang diterima pemerintah hanya menyebutkan tiga orang menjalani perawatan akibat mengalami gejala yang diduga keracunan. Namun, dalam beberapa jam berikutnya jumlah korban terus bertambah hingga mencapai puluhan orang, sebelum akhirnya mendekati 100 orang pada Kamis siang.
Menurut Nurdin, seluruh pasien langsung mendapatkan penanganan medis dan dipusatkan di Puskesmas Cibatu agar kondisi kesehatannya dapat dipantau secara intensif. Pemerintah juga terus melakukan pendataan terhadap warga lain yang mengalami keluhan serupa.

“Seluruh pasien ditangani di Puskesmas Cibatu agar kondisinya bisa dipantau secara intensif. Kami juga masih melakukan pendataan terhadap warga yang mengalami gejala serupa,” kata Nurdin.
Salah seorang korban, Ahmad, mengaku mulai mengalami diare, muntah, dan buang air besar berulang pada malam hari setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang oleh adiknya dari pesantren.
Pada awalnya, Ahmad mengira keluhan tersebut disebabkan gangguan lambung. Namun, setelah mengetahui banyak orang mengalami gejala yang sama, ia menduga kondisi tersebut berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi.
Menurut Ahmad, menu yang disantap terdiri atas tempe, telur ceplok, dan sayur sop. Saat dimakan, makanan tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda basi maupun memiliki rasa yang berbeda dari biasanya.
“Awalnya saya kira hanya sakit lambung. Setelah tahu banyak yang mengalami hal serupa, saya menduga ada kaitannya dengan makanan itu,” ungkapnya.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan tersebut masih menunggu hasil penyelidikan dan pemeriksaan dari pihak berwenang. Tim kesehatan bersama Pemerintah Kabupaten Garut masih terus memantau perkembangan kondisi para korban sekaligus melakukan investigasi untuk memastikan sumber penyebab kejadian.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium serta penyelidikan resmi sebelum menyimpulkan penyebab insiden tersebut. Sementara itu, penanganan terhadap para korban tetap menjadi prioritas agar seluruh pasien dapat segera pulih. (Yuyus)



.png)











