oleh

Guru Honorer Ini Sukses Bisnis Gula Semut dengan Keuntungan Rp2 Juta/Minggu

GOSIPGARUT.ID — Siapa bilang guru honorer tidak bisa sukses jika menjalankan rangkap profesi dengan menjadi pebisnis? Sudah dibuktikan oleh Sarifudin, guru honorer yang mengajar di salah satu Raudatul Athfal (RA) di Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut. Pria berusia 37 tahun ini, di samping berhasil jadi pendidik, juga bisa dibilang sukses di bidang usaha gula semut.

Betapa tidak, dalam omzet (penjualan) 1 ton gula semut per minggunya, warga Kampung Datarmuncang, Desa/Kecamatan Cisewu, ini mampu meraih laba (keuntungan) bersih sebesar Rp2 juta. Keberhasilan lainnya, Sarifudin mampu meciptakan jaringan dan pasar hingga ke sejumlah daerah di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.

Bahkan gula semut dengan merk dagang “Arensewu” miliknya sudah menembus pasar Eropa, seperti Belgia. Di pasar dalam negeri pun, seperti Bali, permintaan terhadap Arensewu cukup besar.

Tentu keberhasilan suami dari Tanti Yulianti itu bukan diraih dengan serta merta. Namun, berbekal pengalamannya selama delapan tahun menjadi sekretaris Unit Pelaksana Kegiatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (UPK PNPM), yang membuat usaha di bidang pembuatan dan penjualan gula semut yang dikelolanya sejak tahun 2006 itu bisa melahirkan kebanggaan tersendiri.

Baca Juga:   Calon Senator Sapei ST: Idealnya Jabar Dibagi Tiga Wilayah

“Kebanggaan tersebut bukan saja bagi saya sendiri melainkan juga bagi keluarga dan masyarakat sekitar,” tandas ayah dari dua orang anak ini seraya menjelaskan bahwa keberhasilannya juga karena keuletan dan kesabarannnya yang ia jalankan selama berbisnis.

Diakui Sarifudin, selama keterlibatannya di UPK PNPM, tak ayal membuat namanya populer atau dikenal banyak orang. Kepopuleran itu ia manfaatkan untuk berbisnis. Karena menurutnya, dengan popularitas jualan apapun bisa laku. Maka sejak itu Sarifudin mulai mengembangkan bisnis di luar PNPM, yaitu jualan madu asli hutan dan sale pisang.

“Pada awal-awalnya saya berbisnis gula semut, keuntungan yang diraih hanya sebesar Rp200 ribu per minggu. Meski keuntungan yang saya raih boleh dibilang kecil, namun kondisi itu terus saya nikmati dan jalani dengan sabar. Dan, di awal tahun 2020, keuntungan bersih sebesar Rp2 juta akhirnya saya raih,” kata guru honorer yang memiliki lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) itu.

Baca Juga:   PDI Perjuangan Bentuk 16 Ranting dan 110 Anak Ranting di Talegong dan Cisewu

Ketika ditanya mengapa dia terjun ke bisnis di samping menjadi guru, Sarifudin menjelaskan bukan karena gaji dari seorang guru honorer itu kecil, melainkan ia ingin sekali menjadi enterpreuner yang berhasil. “Saya sangat suka tantangan dalam meraih kesuksesan. Tetapi bukan berarti menjadi guru tidak ada tantangannya. Saya semata-mata hanya ingin menjadi pendidik yang juga sukses berbisnis,” ujar Sarifudin.

Gula semut dengan merk dagang “Arensewu”. (Foto: Dok. Pribadi)

Ia pun memaparkan, kenapa bisnis gula semut yang dipilih. Alasannya adalah karena gula semut merupakan spesifikasi gula aren yang bentuknya eklusif dan mudah disajikan. Kadar airnya kurang dari dua persen, rendah kalori, dan banyak permintaan dari pasar.

“Arensewu merupakan brand pertama gula semut yang ada di Kecamtan Cisewu yang dimiliki oleh saya. Kulitas Arensewu berani bersaing dengan gula semut yang ada di pasaran lain,” ujar pria yang pernah ikut seminar Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif) itu.

Baca Juga:   Dedi Mulyadi Berpotensi Lolos ke Senayan dan Jadi Caleg Peraih Suara Tertinggi

Alasan lain Sarifudin memilih gula semut sebagai ladang bisnisnya, karena gula aren merupakan hasil bumi Kecamatan Cisewu yang terus bertahan secara turun temurun. Lantaran gula aren yang bentuknya batang tidak punya nilai jual yang tinggi, makanya ia memilih gula aren yang diserbukan atau gula semut.

“Harga gula semut di pasaran di atas gula batang. Selain itu gula semut merupakan bahan sembako yang tiap hari dikonsumsi sehingga cepat laku apalagi kalau bentuknya serbuk. Sedangkan kelebihan Arensewu yaitu gula semut yang original terbuat langsung dari air nira, bukan repro dari gula batang. Sehingga aromanya wangi, dan rasanya asli manis tanpa bahan campuran,” terang Sarifudin.

Menurut dia, dengan hadirnya gula semut mampu mengangkat nilai jual para petani karena harga gula semut jauh lebih tinggi dari gula batang. Paling tidak, bagi para petani gula yang disemutkan bisa meningkatkan pendapatannya di atas 30 persen. ***

Komentar

Berita Terkait