GOSIPGARUT.ID — Untuk mempercepat olah tanam dan pemanfaatan lahan, ratusan hektare lahan tadah hujan di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, menggunakan pola tanam Pajale (padi jagung kedelai)
Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Cibatu, Ade Oleh, S.PKP, Jum’at (17/4/2020) melakukan penanaman perdana tanaman kedelai di kelompok Tani Bumi Gora II Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu.
Kegiatan tanam Pajale dilaksanakan bersama penyuluh pertanian se-BPP Cibatu dan Ketua Kelompok Bumi Gora II, Jajang Junaedi. Penanaman kedelai varietas orba, anjasmoro, dan wilis itu dilakukan di Blok Salam Satu Desa Cibunar.
Ade Oleh menjelaskan, penanaman pola Pajale saat ini dilakukan secara swadaya baik dari pembelian bibit maupun pekerja. Tujuannya agar petani bisa memanfaatkan lahan pertanian di lahan tadah hujan untuk mempertahankan ketahanan pangan.
Untuk satu hektare lahan dibutuhkan benih 40 kilogram hingga 50 kilogram bibit kedelai. Sementara hasil produksi bisa mencapai satu hingga 1,5 ton tiap panen. Penanaman kedelai bisa mencegah gagal panen karena tanpa olah tanah (TOT).
“Pola tanam Pajale tujuannya agar petani bisa memanfaatkan lahan,mempercepat masa tanam dan meminimalisir kerugian akibat gagal panen. Untuk lahan tadah hujan ya pola Pajale yang paling tepat meski dilaksanakan secara swadaya,” ujar Ade.
Ia menambahkan, selain bisa meminimalisir biaya garap, harga kedelai di pasaran juga jarang anjlok.Saat panen raya tiba harga kedelai berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram.
“Sementara harga bibit sebesar Rp14.000 per kilogram, karena khusus bibit harus dilakukan uji di Balai Sertifikasi dan Pengawas Benih Pertanian. Hanya kedelai yang lulus uji BSPS yang dijadikan benih,” kata Ade. (Respati)



.png)











