GOSIPGARUT.ID — Dua cangkir kopi dingin tersaji di atas meja kayu Himar Coffee Shop, Jalan Ahmad Yani, Garut. Dari aromanya, tercium wangi tajam mirip rhum—jenis minuman beralkohol yang biasa dipakai untuk campuran kue atau koktail. Namun saat diseruput, tak ada sedikit pun jejak alkohol di dalamnya.
Eksperimen rasa itulah yang menyita perhatian Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, saat berkunjung ke kedai berarsitektur vintage di Kelurahan Kota Wetan tersebut. Di tengah menjamurnya kedai kopi yang menawarkan konsep serupa di Garut, Himar memilih jalur berbeda: mengolah 100 persen biji kopi lokal (Garut beans) menjadi minuman siap minum (ready-to-drink) dengan profil rasa mirip minuman beralkohol, namun sepenuhnya non-alkohol.
Pemilik sekaligus barista Himar Coffee Shop, Aldy, menyebut racikan ini lahir dari kekhawatiran atas minimnya variasi olahan biji kopi Garut di pasar produk siap saji. Selama ini, kopi Garut tersohor di kalangan penikmat kopi seduh manual, namun belum banyak menyasar segmen anak muda yang menginginkan sensasi rasa baru saat berkumpul.
”Kami berpikir bagaimana caranya budaya nongkrong anak muda bisa tergantikan dengan minuman ini tanpa perlu alkohol,” kata Aldy.

Uniknya, karakter rasa dan aroma menyerupai wine atau rhum tersebut bukan dihasilkan dari proses fermentasi biji kopi secara ekstrem, melainkan murni dari formulasi dan racikan bahan baku alami yang dipadukan dengan ekstrak kopi.
Respon pasar pada awalnya dipenuhi rasa heran. Menurut Aldy, mayoritas pembeli sempat ragu saat mencoba tegukan pertama. Namun, karakter rasa yang tidak biasa itu justru menjadi daya tarik yang membuat konsumen datang kembali.
”Banyak orang yang reaksi pertamanya kaget. Tapi pas masuk ke cangkir atau minuman kedua, mereka mulai menerima,” ujar Aldy.
Strategi diferensiasi ini dinilai efektif memberi nilai tambah bagi komoditas kopi Garut. Selain menyasar konsumen di tempat, pihak pengelola kini mengemas racikan kopi unik tersebut sebagai alternatif oleh-oleh khas Garut yang mudah dibawa bepergian.
Putri Karlina menilai inovasi yang dilakukan Himar menjadi angin segar bagi peta industri kreatif lokal. Menurut dia, keberanian mengusung identitas produk yang kuat menjadi kunci bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis kedai kopi saat ini.
”Salah satu yang identitasnya kuat itu Himar. Mengadaptasi rasa minuman beralkohol ke dalam kopi tanpa mengandung alkohol sama sekali,” tutur Putri.
Kehadiran racikan kopi non-alkohol ini membuktikan bahwa narasi komoditas lokal masih bisa dikembangkan lebih jauh. Tanpa harus bergantung pada konsep kedai kopi konvensional, pengerjaan produk yang presisi dan unik sanggup mengubah biji kopi daerah menjadi komoditas bernilai jual tinggi. ***



.png)





