GOSIPGARUT.ID — Haru dan bahagia terpancar dari wajah Enti, seorang warga Kelurahan Sukamenteri, Kecamatan Garut Kota. Setelah bertahun-tahun tinggal menumpang bersama keluarganya, perempuan yang juga mengidap penyakit tuberkulosis (TBC) itu kini bisa bernafas lega. Rumah barunya resmi berdiri berkat program “Rumah Harapan”, kolaborasi antara Pemkab Garut dan Yayasan Arsitektur Hijau Nusantara (Yahintara).
Peresmian program tersebut digelar di Masjid Al-Falah, Garut Kota, Sabtu (8/11/2025). Langkah ini menjadi terobosan baru Pemkab Garut dalam menangani masalah sosial dan kesehatan sekaligus, dengan menjadikan penderita TBC sebagai prioritas penerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).
Perwakilan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Garut, Nadia, menjelaskan bahwa program perbaikan rumah ke depan akan difokuskan untuk mendukung penanggulangan TBC.
“Mungkin nanti program Rutilahu akan diprioritaskan untuk penderita TBC. Ini intervensi baru yang menyentuh dua sisi sekaligus — kesehatan dan kemiskinan ekstrem,” ujar Nadia.
Ia menambahkan, pihaknya bekerja sama dengan Yahintara dalam pendataan calon penerima bantuan agar program lebih tepat sasaran.
Sementara itu, Perwakilan Yahintara, Ruli Oktavian, menilai kondisi lingkungan tempat tinggal memiliki peran besar terhadap penyebaran TBC. Karena itu, pihaknya mendorong adanya intervensi keteknikan pada rumah-rumah tidak layak agar bisa menjadi tempat tinggal yang sehat dan aman.
“Kami sejak 2018 sudah punya program Desa Siaga Tuberkulosis. Sekarang kami lanjutkan dengan pendekatan teknis. Rumah sehat dengan ventilasi dan pencahayaan cukup bisa mencegah penularan penyakit,” kata Ruli.
Ruli menyoroti bahwa Kelurahan Sukamenteri merupakan salah satu wilayah dengan kasus TBC cukup tinggi. Dalam radius hanya 200 meter, ditemukan 13 rumah yang penghuninya adalah penderita TBC — bahkan beberapa rumah dihuni oleh lebih dari dua orang pengidap penyakit tersebut.
“Kebanyakan rumah penderita TBC ventilasinya buruk, cahaya matahari tidak masuk, dan sirkulasi udaranya tidak baik. Itu yang memperparah penyebaran. Karena itu kami harap Pemkab bisa mengalokasikan minimal 5 persen kuota Rutilahu untuk penderita TBC,” tuturnya.
Program Rumah Harapan ini tak hanya sekadar membangun fisik rumah, tapi juga menghidupkan kembali harapan warga yang selama ini terpinggirkan oleh penyakit dan kemiskinan.
Enti, penerima manfaat pertama, tak kuasa menahan air mata saat menerima kunci rumahnya. “Saya senang, bahagia, soalnya saya gak punya rumah. Sekarang saya sudah dibikinin rumah. Terima kasih, saya bisa tenang sekarang,” ucapnya haru.
Melalui program ini, Pemkab Garut ingin menegaskan bahwa penanganan TBC bukan hanya soal medis, tetapi juga soal lingkungan hidup yang layak dan manusiawi. Rumah sehat, udara bersih, dan pencahayaan cukup menjadi bagian penting dari upaya memutus rantai penularan penyakit yang masih menjadi momok di banyak daerah di Indonesia.
Dengan hadirnya “Rumah Harapan”, Garut kini tak hanya membangun dinding dan atap — tetapi juga membangun kembali asa para penderita TBC untuk hidup lebih sehat dan bermartabat. ***



.png)











