GOSIPGARUT.ID — Di tengah lantang terdengarnya jargon “Garut Hebat” yang terus digelorakan elite pemerintahan daerah, suara rakyat justru mengungkap wajah lain yang jauh dari gemerlap. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Garut dituding bobrok dan penuh penyimpangan.
Dera Hermana, Koordinator Lapangan Panggung Rakyat (Mimbar Bebas), menegaskan bahwa realitas di lapangan sangat berbeda dengan narasi resmi pemerintah.
“Garut Hebat itu bukan soal baliho dan pidato. Hebat itu bersih, jujur, dan berpihak pada rakyat. Tapi nyatanya, PKBM jadi ladang penyimpangan. Ini bukan sekadar cacat administratif, ini wajah buruk birokrasi pendidikan kita,” tegas Dera, Rabu (10/9/2025).
Menurutnya, praktik manipulatif telah merusak esensi pendidikan kerakyatan. Dera menuding laporan fiktif, data yang dimanipulasi, hingga lemahnya pengawasan pemerintah daerah sebagai akar persoalan.
“Tanpa evaluasi menyeluruh, slogan Garut Hebat hanya jadi mantra kosong. Kita butuh keberanian politik untuk bersih-bersih, bukan sekadar pencitraan,” tambahnya.
Gerakan rakyat mencatat, hingga 90 persen PKBM di Garut diduga bermasalah. Pendidikan non-formal yang seharusnya membuka ruang pembebasan bagi masyarakat malah berubah menjadi simbol pembiaran.
“Ini bukan soal satu-dua oknum. Ini soal sistem yang permisif terhadap penyimpangan. Kalau dibiarkan, rakyat makin kehilangan harapan. Kita tidak butuh Garut Hebat di atas kertas, kita butuh Garut yang berpihak pada rakyat di lapangan,” seru Dera.
Meski demikian, Bupati dan Wakil Bupati Garut tetap aktif menggaungkan jargon Garut Hebat di berbagai forum. Namun, bagi para aktivis, slogan itu semakin hambar dan jauh dari kenyataan.
Gerakan rakyat pun mendesak audit menyeluruh, transparansi anggaran, serta reformasi total terhadap sistem PKBM.
“Kalau pemerintah diam, rakyat akan bergerak. Karena pendidikan bukan komoditas, tapi hak yang harus dijaga bersama,” tutup Dera. ***



.png)











