GOSIPGARUT.ID — Perseteruan antara Ustad Solmed dengan panitia pengajian di Desa/Kecamatan Cisewu, Kabupaten Garut, berbuntut panjang. Ustaz yang bernama asli Sholeh Mahmoed Nasution itu, Selasa (5/10/2021) melaporkan panitia pengajian bernama Suwarna dan Tisna ke Polda Jabar dengan tuduhan pencemaran nama baik.
Adanya laporan Ustaz Somed ke pihak kepolisian itu disesalkan Ketua Umum Santri Pasundan, Aceng Ahmad Nasir. Ia meminta kepada kedua belah pihak yang berseteru untuk bertabayun dan islah.
“Saya merasa kaget dengan hebohnya kasus perseteruan antara Ustaz Solmed dengan panitia pengajian. Hemat saya, seyogyanya hal ini tidak dijadikan konsumsi publik. Jika kedua belah pihak bijak, tentu bisa diselesaikan secara islah. Adanya peristiwa ini, terus terang bagi saya miris mendengarnya,” ujar Aceng, Rabu (6/10/2021).
Pria kelahiran Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, ini mengaku pernah bertemu dengan Ustaz Solmed di Jakarta beberapa waktu lalu. Menurutnya, suami dari April Jasmine itu orangnya ramah dan baik.
Jadi, Aceng tidak menyangka kalau Ustaz Solmed ternyata sampai tega melaporkan panitia pengajian yang mengundangnya ke polisi. Apapun alasannya tentang pelaporan tersebut, menurut dia, langkah yang ditempuh Ustaz Solmed sungguh tidak etis dan memalukan.
“Apalagi penyebab perseteruan itu ada bau-bau urusan penjualan rokok. Tentu ini persepsinya jadi lebih kurang baik, karena seolah-seolah pengajian dijadikan ajang bisnis,” tandas Aceng.
Ia mengatakan, bahwa dirinya juga merupakan penceramah yang hampir 20 tahun malang melintang di Jakarta, yaitu sebelum munculnya Ustaz Solmed. Namun Aceng sudah lama berhenti dan menolak undangan karena khawatir jika dakwah itu dijadikan ladang pencarian materi.
Terkait dengan marahnya warga dan panitia di Cisewu ketika Ustaz Solmed membatalkan pengajian itu, Aceng sangat memahami psikologi mereka. Betapa tidak, pihaknya yang sudah capek-capek mempersiapkan untuk terselenggaranya pengajian dengan pembicara Ustaz Solmed, ternyata akhirnya batal.
“Apalagi untuk mendatangkan Ustaz Solmed ke daerahnya itu, warga dan panitia sudah memberikan uang ke pihak Ustaz Solmed, batalnya pengajian tersebut sungguh sangat mengecewakan,” ujarnya.
“Ditambah lagi sekarang harus berurusan dengan pihak kepolisian. Ini ibarat sudah jatuh ketimpa tangga, kemarahan dan kekecewaan warga dan panitia tentu kian membesar,” imbuh Aceng.
Oleh sebab itu, sebagai warga Garut, pihaknya meminta kepada Ustaz Solmed untuk bijaksana dan melihat persoalan ini secara jernih, tidak dialibikan bahwa panitia sebagai maling rokok. Tapi tolong dalami persoalan dengan mendasar. Kasihanilah warga, untuk mengundang ustaz itu tentu sangat berat, mereka harus mengumpulkan uang secara patungan.
“Sebagai penceramah, sebaiknya memberikan tauladan yang baik kepada masyarakat. Bukan sedikit-sedikit ada masalah proses hukum. Ini bisa berdampak terhadap citra ustaz lainnya yang banyak berjuang dan berda’wah sampai ke pelosok negeri dengan lilahi ta’ala tanpa meminta bayaran,” kata Aceng.
Ia mengimbau kepada masyarakat berkaitan dengan pengajian, seharusnya memahami bahwa pengajian itu bukan mencari tontonan tetapi tuntunan.
“Jika mencari tontonan ya beginilah jadinya. Ustaznya tidak datang, warga marah kan kasian panitianya. Penceramahnya juga terkadang kejadian force major itu sering terjadi, tanpa diduga seperti muncul musibah. Panitia pun harus lebih matang dalam mengundang penceramah, carilah karena ilmu dan amalnya bukan sekedar populer saja. ***



.png)












