Jumardi langsung membidik inventarisasi kekayaan desa dan merombak skema pasokan air bersih warga melalui BUMDes. Ia mengobral Janji Kerja Bersih, bukan retorika.
GOSIPGARUT.ID — Baru hitungan jam dilantik di Pendopo Pamengkang, Kepala Desa Cisewu terpilih, Jumardi, langsung menyalakan mesin birokrasi. Tanpa selebrasi berlebih, pria yang resmi mengucap sumpah di hadapan Bupati Garut pada Rabu sore, 26 Agustus 2026, itu langsung menyasar dua persoalan krusial yang menyandera desa selama bertahun-tahun: semrawutnya tata kelola aset desa dan kelangkaan air bersih.
Jumardi dilantik berbarengan dengan Kepala Desa Cigadog, Kecamatan Sucinaraja. Usai prosesi, ia menegaskan pendataan total aset merupakan syarat mutlak sebelum mengeksekusi cetak biru pembangunan Desa Cisewu. Tanpa peta aset yang sahih, menurut dia, program desa hanya akan membentur tembok transparansi.
“Langkah pertama saya mencari semua aset desa. Kedua, melihat kebutuhan masyarakat yang sekarang, salah satunya masalah air,” kata Jumardi tegas saat ditemui GOSIPGARUT.ID di Pamengkang, Rabu 26 Agustus 2026.
Krisis Air Menahun dan Skenario BUMDes
Bukan rahasia lagi, pasokan air di Desa Cisewu menyisakan persoalan laten. Selama ini warga dipaksa menggantungkan hidup pada sumber mata air alam yang pengelolaannya alakadarnya. Walhasil, ketersediaan debit air konsisten tekor dan gagal memenuhi kebutuhan harian warga secara merata.
Melihat kebocoran tata kelola tersebut, Jumardi menyiapkan skenario anyar: menginjeksi peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Lembaga ekonomi desa ini bakal didorong mengelola unit usaha air secara profesional demi menjamin pasokan stabil.
“Selama ini dari yang saya dengar warga menggunakan sumber mata air yang dialirkan, tetapi itu pun masih kurang,” tuturnya.
Jumardi menggarisbawahi, terobosan desa tidak bisa berdiri sendiri—intervensi anggaran dan teknis dari Pemerintah Kabupaten Garut menjadi kuncinya.
Modal Tujuh Tahun dan Janji Bekerja Bersih
Statusnya sebagai warga pendatang yang berdomisili selama tujuh tahun di Cisewu justru menjadi nilai tambah bagi Jumardi. Jam terbang berinteraksi dengan akar rumput membuatnya mengklaim paham betul peta penyakit sosial dan kebutuhan infrastruktur setempat.
Ia memilih mengambil jarak dari gaya kepemimpinan yang gemar menebar janji manis. Di mata Jumardi, masyarakat butuh eksekusi riil ketimbang obral janji politik yang minim kepastian.
“Saya tidak berjanji, tetapi mengupayakan mengembalikan Cisewu antara 50 sampai 70 persen. Itu niat hati saya. Ke depannya saya harus mulai bekerja dengan istilah bersih saja,” ujar Jumardi.
Dengan postur APBDes yang terbatas, Jumardi sadar tak bisa jalan sendiri. Sinergi ketat dengan Pemkab Garut akan digenjot untuk mendanai proyek-proyek strategis. Kini, publik Cisewu menunggu pembuktian sang kepala desa baru: apakah slogan “bekerja bersih” mampu menyelesaikan dahaga air dan menata kembali benteng aset desa. (Yuyus)



.png)















