Berita

Kekeringan Ancam 320 Hektare Sawah di Garut, Cibatu dan Selaawi Jadi Wilayah Paling Terdampak

×

Kekeringan Ancam 320 Hektare Sawah di Garut, Cibatu dan Selaawi Jadi Wilayah Paling Terdampak

Sebarkan artikel ini
Areal persawahan di Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut mulai terkena dampak kekeringan. (Foto: Antara)

GOSIPGARUT.ID — Ancaman kekeringan mulai berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Garut. Dinas Pertanian Kabupaten Garut mencatat sedikitnya 320 hektare lahan pertanian terdampak kekurangan pasokan air hingga 30 Juli 2026, dengan wilayah paling terdampak berada di Kecamatan Cibatu dan Kecamatan Selaawi.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Ardhy Firdian, mengatakan sebagian besar lahan yang terdampak merupakan sawah yang telah ditanami. Namun, pasokan air irigasi yang tersedia tidak mampu menjangkau seluruh areal persawahan sehingga memicu kekeringan di sejumlah titik.

“Daerah yang paling banyak terdampak berada di Cibatu dan Selaawi. Kendala utamanya adalah pasokan air yang tidak mencukupi sehingga tidak sampai ke seluruh lahan sawah,” ujar Ardhy.

Ia menjelaskan, dampak kekeringan terlihat cukup nyata di sejumlah kawasan, terutama di Kecamatan Selaawi. Menurutnya, terdapat perbedaan kondisi sawah yang mencolok antara lahan yang berada di bagian atas dan bagian bawah saluran irigasi.

Baca Juga:   ASHTA District 8 Menjadi Mall Pertama yang Menghadirkan “Free Reading Space”

Sawah yang berada di bagian atas masih memperoleh aliran air sehingga tanaman padi tetap tumbuh hijau. Sebaliknya, lahan di bagian bawah mulai mengalami kekeringan karena debit air yang mengalir tidak lagi mencukupi untuk memenuhi kebutuhan seluruh areal pertanian.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petani pada musim kemarau tahun ini. Berkurangnya pasokan air berpotensi menghambat pertumbuhan tanaman padi dan meningkatkan risiko gagal panen apabila tidak segera ditangani.

Dari total 320 hektare lahan yang terdampak, sekitar 15 hektare di antaranya dilaporkan mengalami puso atau gagal panen. Meski demikian, Ardhy menilai luas lahan yang mengalami puso masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total luas tanam padi di Kabupaten Garut yang mencapai sekitar 9.000 hektare.

Baca Juga:   Turnamen Bola Voli Ngabuburit Cup Tahun 2024 Resmi Ditutup, Ini Daftar Pemenangnya

“Secara persentase memang kecil, tetapi setiap luasan lahan padi tetap menjadi perhatian kami. Kami berupaya agar lahan yang terdampak tetap bisa diselamatkan dan menghasilkan panen,” katanya.

Untuk mengurangi dampak kekeringan yang semakin meluas, Dinas Pertanian telah melakukan asesmen di sejumlah wilayah yang terindikasi mengalami kekeringan, mulai dari kategori ringan hingga berat. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan sesuai tingkat keparahan di lapangan.

Salah satu upaya yang kini dilakukan adalah membangun beberapa titik sumur irigasi sebagai sumber air alternatif bagi lahan pertanian yang kesulitan memperoleh pasokan air permukaan. Intervensi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.

Baca Juga:   Bertambah Lagi Tiga, Positif Covid-19 di Garut Tembus 71 Kasus

Menurut Ardhy, penyediaan sumber air alternatif menjadi langkah penting untuk mempertahankan produktivitas pertanian sekaligus menekan risiko bertambahnya luas lahan yang mengalami puso. Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan kondisi di lapangan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat apabila kekeringan semakin meluas.

Ia berharap berbagai langkah yang dilakukan dapat membantu petani mempertahankan produksi padi di tengah musim kemarau, sehingga dampak kekeringan terhadap ketahanan pangan di Kabupaten Garut dapat diminimalkan. (Yuyus)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *