GOSIPGARUT.ID — Pemerintah Kabupaten Garut memastikan ketersediaan bahan pangan pokok bagi masyarakat dalam kondisi aman dan terkendali selama bulan suci Ramadhan hingga Idulfitri 2026. Kepastian itu disampaikan setelah dilakukan koordinasi lintas instansi dan pemantauan langsung terhadap stok di lapangan.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Energi dan Sumber Daya Mineral Kabupaten Garut Ridwan Effendy mengatakan, hasil rapat persiapan bersama Perum Bulog pada 10 Februari 2026 menunjukkan stok beras di Gudang Bulog Sukagalih masih sangat mencukupi.
“Data terakhir mencatat ada sekitar 7.090 ton beras kemasan 50 kilogram dan 12,6 ton beras SPHP yang siap disalurkan. Kami pastikan kebutuhan warga Garut sampai Lebaran nanti aman,” ujar Ridwan dalam keterangan resmi, Sabtu (28/2/2026).
Menurut dia, ketersediaan stok tersebut dinilai cukup untuk mengantisipasi peningkatan konsumsi masyarakat selama Ramadan dan menjelang hari raya.
Skema Baru Minyakita, Distribusi Dipangkas
Tak hanya beras, pemerintah daerah juga memantau ketat distribusi minyak goreng rakyat Minyakita. Ridwan menjelaskan, penyaluran kini mengikuti skema terbaru sesuai regulasi dari Kementerian Perdagangan Republik Indonesia.
Dalam aturan tersebut, Perum Bulog dan ID Food diwajibkan menyalurkan Minyakita langsung ke pedagang eceran di pasar rakyat tanpa melalui rantai distributor panjang.
“Skema direct supply ini bertujuan memutus mata rantai distribusi agar harga tetap sesuai ketentuan dan tidak terjadi lonjakan yang tidak wajar,” kata Ridwan.
Ia menambahkan, pengawasan difokuskan di sejumlah pasar strategis, termasuk Pasar Guntur Ciawitali yang masuk dalam pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP).
Cabai Tembus Rp100.000 per Kilogram
Meski stok beras dan minyak goreng relatif stabil, sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga. Cabai rawit merah tercatat berada di kisaran Rp80.000 hingga Rp100.000 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam menyentuh Rp31.000–Rp32.000 per kilogram.
Ridwan menyebutkan, kenaikan harga dipicu lonjakan permintaan menjelang Ramadan, sementara masa panen belum sepenuhnya normal. Di tingkat petani, harga cabai rawit merah bahkan sudah mencapai Rp70.000 per kilogram.
“Hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian menunjukkan produksi belum optimal. Kami berupaya mengarahkan petani champion cabai untuk memprioritaskan kebutuhan pasar lokal Garut,” ujarnya.
OPM hingga Satgas Pangan Disiapkan
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Pemkab Garut menyiapkan sejumlah langkah antisipatif. Operasi Pasar Murah (OPM) dijadwalkan digelar pada pekan kedua Maret 2026. Selain itu, dibentuk Satgas Pangan Sapu Bersih Pelanggaran Harga, Keamanan, dan Mutu Pangan yang bersekretariat di Dinas Ketahanan Pangan.
Sidak gabungan juga akan kembali dilakukan menjelang Idulfitri guna mencegah praktik penimbunan, menyusul sidak perdana bersama Bupati pada 12 Februari lalu.
Ridwan mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Berdasarkan evaluasi tahun-tahun sebelumnya, permintaan bahan pokok di pasar tradisional justru cenderung menurun saat arus mudik berlangsung.
“Belanjalah sesuai kebutuhan. Jika menemukan harga yang melampaui HET secara signifikan, masyarakat bisa melapor ke Sekretariat Satgas Pangan di Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut,” kata dia. (Yan AS)



.png)











