Headline

Senjakala Nawacita Joko Widodo (Catatan Hasanuddin)

×

Senjakala Nawacita Joko Widodo (Catatan Hasanuddin)

Sebarkan artikel ini
Peneliti PISP: Hasanuddin

JOKO Widodo (Jokowi) dan Nawacita identik. Namun indentikasi ini mengalami ketidakmenyatuan di penghujung menjelang akhir masa jabatannya: 2024.

Tubuh Jokowi terlepas dari ide Nawacitanya justru di senjakala jabatannya.

Ironisnya, ketidakmenyatuan ini bukanlah disebabkan kesadarannya, melainkan ada roh lainnya yang merasuki tubuhnya.

Roh investasi asing dan demokrasi liberal telah masuk jauh ke dalam tubuh sang Presiden.

Roh investasi asing mencapai puncak ekstasenya pada pemindahan Ibu Kota Negara, dihembus-hembuskan, dicari-cari pintu masukknya ke dalaman wilayah kedaulatan, kemandirian dan kepribadian simbolik Ibu Kota Negara, setelah sebelumnya bergerilya di tanah tak bertuan infrastruktur.

Baca Juga:   Jadi Generasi AI! BINUS UNIVERSITY Pelopori Program Pembelajaran AI Untuk Kembangkan Talenta Digital Indonesia

Tak sampai di situ, muncul roh varian baru lagi, yang tak lagi mengenal protokol politik nasional; jaga jarak kedaulatan, masker nasionalisme, dan vaksin kemandirian.

Roh itu bernama demokrasi liberal!

Atas nama kebebasan berdemokrasi, dihembuskan penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode.

Yang berakibat Jokowi kehilangan identikasinya sebagai manusia yang berdaulat, berkepribadian dan mandiri.

Baca Juga:   Pemeran Video Syur "Kebaya Merah", Icha Ceeby, Ternyata Seorang Model

Nawacita dibegal oleh lingkungan sosial sekitarnya.

Manusia (Jokowi) pada dasarnya baik, sebagai tabularasa kedaulatan, kemandirian dan kepribadian Indonesia.

Sebagai kertas kosong pada mula, menjadi tercoret tak terurai di senjakalanya oleh lingkup sosialnya, roh di sekitar Istana.

Manusia Jokowi yang dilahirkan oleh “suatu partai politik” telah berusaha mengingatkan sang anak tersebut, tetapi apa ia mau kembali kepangkuan ibunda yang melahirkannya? Di situasi senjakalanya yang terkepung investasi asing dan relasi sosial demokrasi liberal.

Baca Juga:   Komunitas Kripto (KK), Perusahaan Asal Kota Jambi Ini Bantu Dorong Literasi Aset Digital di Indonesia

Perlu mantra-mantra yang didengungkan pada telinga sang tubuh, agar jiwa dan tubuhnya kembali menyatu:

“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.

***

Jakarta, 11 April 2022

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *