JOKO Widodo (Jokowi) dan Nawacita identik. Namun indentikasi ini mengalami ketidakmenyatuan di penghujung menjelang akhir masa jabatannya: 2024.
Tubuh Jokowi terlepas dari ide Nawacitanya justru di senjakala jabatannya.
Ironisnya, ketidakmenyatuan ini bukanlah disebabkan kesadarannya, melainkan ada roh lainnya yang merasuki tubuhnya.
Roh investasi asing dan demokrasi liberal telah masuk jauh ke dalam tubuh sang Presiden.
Roh investasi asing mencapai puncak ekstasenya pada pemindahan Ibu Kota Negara, dihembus-hembuskan, dicari-cari pintu masukknya ke dalaman wilayah kedaulatan, kemandirian dan kepribadian simbolik Ibu Kota Negara, setelah sebelumnya bergerilya di tanah tak bertuan infrastruktur.
Tak sampai di situ, muncul roh varian baru lagi, yang tak lagi mengenal protokol politik nasional; jaga jarak kedaulatan, masker nasionalisme, dan vaksin kemandirian.
Roh itu bernama demokrasi liberal!
Atas nama kebebasan berdemokrasi, dihembuskan penundaan pemilu dan perpanjangan masa jabatan presiden menjadi tiga periode.
Yang berakibat Jokowi kehilangan identikasinya sebagai manusia yang berdaulat, berkepribadian dan mandiri.
Nawacita dibegal oleh lingkungan sosial sekitarnya.
Manusia (Jokowi) pada dasarnya baik, sebagai tabularasa kedaulatan, kemandirian dan kepribadian Indonesia.
Sebagai kertas kosong pada mula, menjadi tercoret tak terurai di senjakalanya oleh lingkup sosialnya, roh di sekitar Istana.
Manusia Jokowi yang dilahirkan oleh “suatu partai politik” telah berusaha mengingatkan sang anak tersebut, tetapi apa ia mau kembali kepangkuan ibunda yang melahirkannya? Di situasi senjakalanya yang terkepung investasi asing dan relasi sosial demokrasi liberal.
Perlu mantra-mantra yang didengungkan pada telinga sang tubuh, agar jiwa dan tubuhnya kembali menyatu:
“Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.
***
Jakarta, 11 April 2022



.png)






