oleh

Banjir Garut Selatan, Puluhan Perahu Rusak dan Belasan Tenggelam

GOSIPGARUT.ID — Banjir yang menerjang wilayah selatan Garut tidak hanya merusak rumah yang ada di sekitar sungai. Kerusakan pun terjadi pada puluhan kapal nelayan yang tengah disandarkan di dermaga muara Sungai Cilauteureun, dan belasan lainnya terbawa air lalu tenggelam.

Kepala Rukun Nelayan Santolo, Pudin Marjoko mengatakan, puluhan perahu yang rusak dan hilang itu adalah milik para nelayan yang tak pergi melaut saat kejadian banjir. “Ada 35 perahu rusak saat banjir, 15 diantaranya hilang. Banyak juga yang rusak ringan, tapi bisa tertolong,” katanya, Kamis (15/10/2020).

Dia memperkirakan kerugian akibat hal tersebut mencapai Rp500 juta. Besarnya jumlah kerugian dihitung dari harga satu unit perahu beserta mesin dan kelengkapan lebih dari Rp50 juta dikali perahu rusak dan hilang.

“Sekarang perahu-perahu nelayan banyak yang diparkirkan di bibir Pantai Santolo yang biasa digunakan untuk tempat wisata. Nelayan masih khawatir terjadi banjir susulan. Kalau di lokasi itu memang lebih aman lah,” ungkap Pudin.

Baca Juga:   Kepala BNPB Bersyukur Tak Ada Korban Jiwa Akibat Banjir di Garut Selatan

Salah seorang nelayan, Gun gun mengaku, ketika banjir terjadi dirinya baru saja pulang melaut. Saat hendak masuk muara untuk menyandarkan perahu, dia melihat aliran air dari sungai cukup deras sehingga memilih tidak masuk ke dermaga.

“Saya saat itu melihat banyak perahu yang terbawa derasnya air sungai. Tinggi air memang lebih tinggi sekitar 1 sampai 2 meter dibanding biasanya. Jadinya saya tidak masuk ke dermaga, tapi langsung saja ke arah pantai yang aman dari banjir. Alhamdulillah perahu saya tidak rusak,” terangnya.

Baca Juga:   Kadin Garut: Kewajiban Pencantuman Label Beras Bukan Berarti Matikan Pengusaha Lokal

Banjir besar, menurut Gun gun memang biasa terjadi setiap 10 tahun sekali. Namun banjir yang terjadi Senin (12/10/2020) lebih besar dibanding 10 tahun yang lalu.

Nelayan lainnya, Sula mengaku, dirinya beruntung karena perahunya tidak rusak akibat banjir. Saat kejadian banjir, ia juga mengaku baru pulang melaut. “Melihat air besar di sungai, saya tidak berani masuk muara. Sekarang juga perahu saya diparkir di pantai,” ungkapnya.

Baca Juga:   Perempuan yang Diisolasi di RSUD Garut Meninggal Dunia, Tapi Bukan Karena Corona

Untuk memarkirkan perahu di pantai, disebut Sula, memerlukan tenaga ekstra. Bagaimana tidak, perahu harus ditarik di atas pasir agar tidak terbawa ombak. Untuk bisa menaikan satu perahu, setidaknya dibutuhkan tenaga manusia sebanyak 30 orang.

“Perahu memang tidak rusak akibat banjir, tapi tali-tali perahu ada yang rusak. Ya lumayan untuk tali gitu bisa habis sejutaan,” tutupnya. (Mrdk)

Komentar

Berita Terkait