Berita

Musim Paceklik, Nelayan Santolo Jual Perabot Rumah Tangga untuk Bertahan Hidup

×

Musim Paceklik, Nelayan Santolo Jual Perabot Rumah Tangga untuk Bertahan Hidup

Sebarkan artikel ini
Nelayan pantai Santolo Garut tengah menghadapi musim paceklik. (Foto: Ai Respati)

GOSIPGARUT.ID — Sejumlah nelayan di pantai Santolo, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut,terpaksa menjual berbagai perabot rumah tangga seperti TV, penanak nasi, piring dan gelas untuk bertahan hidup karena penghasilan nelayan rugi akibat musim paceklik.

Sejumlah nelayan di Tempat Pelelangan Ikan pantai Santolo, Selasa (9/6/2020) mengutarakan kesulitan yang dihadapinya dampak dari pandemi Covid-19 dan musim paceklik ikan karena air laut pasang.

Mirisnya, beberapa nelayan mengaku tidak pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah dan tidak tersentuh bantuan apapun sehingga terpaksa bertahan hidup dengan menjual barang yang ada di rumahnya untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Baca Juga:   Jalan Terputus di Jembatan Cibenda, Warga Bangun Jembatan Bambu demi Bertahan Hidup

Seperti pengakuan salah seorang nelayan, Dadang, warga Desa Mancagahar. Menurut dia, namanya tercantum dalam daftar penerima Program Keluarga Harapan (PKH) namun sudah empat tahun terdaftar dirinya tidak pernah sekalipun menerima uang PKH tersebut.

“Saat ada bantuan corona dari desa, yakni 2 kg beras dan 2 buah mie, saya tidak mendapatkan karena katanya dapat PKH. Sementara hingga hari ini saya tidak pernah menerima sepeserpun uang PKH tersebut. Saya meminta kejelasannya seperti apa, kemana uang tersebut diberikan, dan oleh siapa diambilnya?” ujarnya.

Baca Juga:   Diduga Alami Serangan Jantung, Nelayan Santolo Garut Meninggal Dunia Saat Menangkap Ikan

Keluhan yang sama diungkapkan nelayan lainnya, Komar, asal Desa Jatimulya, Kecamatan Pameungpeuk. Menurutnya, saat ini semua nelayan sudah tiga bulan menghadapi musim paceklik ikan, situasi sulit pun bertambah karena nelayan tidak bisa menjual hasil tangkapan ikannya karena tidak ada pengunjung.

Sementara biaya untuk satu kali pergi melaut tidak kurang dari dua ratus ribu rupiah.

Baca Juga:   Nelayan Santolo Tak Bergeming dengan Informasi Bakal Adanya Tsunami

“Kami pergi sore dan pulang pagi hari,biaya sekali melaut tidak kurang dari dua ratus ribu rupiah untuk makan minum dan rokok serta bahan bakar. Padahal seringkali kami pulang dengan tangan kosong, jika ada ikan pun tidak laku karena tidak ada pengunjung,” ungkapnya. (Respati)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *