GOSIPGARUT.ID — Kasus pembunuhan Yahya Ali Wafa, warga Cisoka, Tangerang, Banten, dilatarbelakangi perdukunan. Pelaku utama, Asep Rizky (36), mengaku sebagai dukun, yang bisa memberikan solusi untuk mendatangkan kekayaan dengan ritual di Pantai Sayangheulang, Garut Selatan.
Hal ini membuat korban mendatangi pelaku. Namun justru Yahya tewas di tangan sang dukun. Pelaku tersinggung disebut dukun palsu karena miliki tato di lengan kanan dan kiri.
Polisi menyita barang bukti untuk ritual perdukunan yang dilakukan pelaku. Selain pisau, tasbih, dan dupa, polisi mendapatkan benda berupa dua taring babi hutan. Kepada polisi, Asep mengaku mendapatkan taring babi itu dari kawasan hutan di Banyu Asin, Sumatera Selatan.
“Itu taring babi Pak. Saya temukan saat kerja jadi buruh di perusahaan minyak di Sumatera. Nemu di hutan,” kata Asep di Mapolres Tasikmalaya, Jum’at (7/2/2020).
Taring babi hutan itu selalu Asep bawa dalam setiap ritual. Taring babi, kata dia, dipercaya bisa mendatangkan uang yang banyak untuk pasiennya yang datang. Selain itu, ia kerap membakar dupa agar korbannya mempercayai praktik ritual tersebut.
“Selalu dibawa Pak, karena taring babi ini kata orang bisa datangkan uang banyak. Kayak babi ngepet semacam itu,” tutur Asep.
Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Siswo Tarigan mengatakan bahwa pelaku membuka praktik perdukunan di Cianjur sejak satu tahun lalu.
“Berbagai jenis layanan dukun, mulai uang bisa bolak balik dibelikan tapi balik lagi ke dompet, usaha lancar, obati strok, perjodohan, usir penghuni rumah angker. Pasiennya ada 300-400 orang,” ujar dia.
Kapolres Tasikmalaya AKBP Dony Eka Putra mengimbau agar masyarakat tidak percaya praktik perdukunan untuk mencari kekayaan instan. Selain bisa jadi modus operandi kejahatan, praktik seperti ini juga dilarang agama.
“Saya imbau ke masyarakat jangan percaya dengan praktik pencari kekayaan instan, agar masyarakat terhindar dari modus operandi kejahatan,” tutur Dony. (dtc)



.png)






