Berita

Pengusaha Angkutan di Garut Keluhkan Pembatasan Pembelian Solar Bersubsidi

×

Pengusaha Angkutan di Garut Keluhkan Pembatasan Pembelian Solar Bersubsidi

Sebarkan artikel ini
Kendaraan angkutan barang antri di SPBU. (Foto: Istimewa)

GOSIPGARUT.ID — Sejumlah pengusaha angkutan barang dan penumpang di Kabupaten Garut mengeluhkan pembatasan pembelian bahan bakar solar bersubsidi sehingga banyak kendaraan tidak beroperasi. 

“Kami harap pembatasan solar ini dapat dikaji lagi, terutama untuk kendaraan angkutan barang,” kata pengusaha angkutan truk pasir Sigit di Kabupaten Garut, Rabu (13/11/2019).

Ia menuturkan SPBU di Garut membatasi pembelian solar bersubsidi hanya Rp100 ribu sejak sepekan, akibatnya pemilik kendaraan angkutan barang harus membeli solar nonsubsidi atau jenis dexlite.

Baca Juga:   Duh, Jumlah Anak Balita Stunting di Garut Bertambah Jadi 18.958 Jiwa

“Harga solar nonsubsidi dua kali lipat lebih mahal dari solar bersubsidi,” ujar Sigit.

Ia mengatakan harga solar jenis dexlite Rp10.200 per liter, sementara bio solar harganya lebih murah yakni Rp5.150 per liter, sehingga pengusaha harus mengeluarkan biaya operasional BBM lebih besar.

Sigit mengungkapkan setiap hari kebutuhan solar untuk satu truk sebesar Rp200 ribu sampai Rp250 ribu, namun karena harus membeli solar jenis dexlite pengeluaran menjadi Rp500 ribuan per hari

“Sekarang untuk pembelian bahan bakar solar jadi Rp500 ribu untuk kebutuhan pengiriman barang di dalam kota Garut,” katanya.

Baca Juga:   Curi Sepeda Motor di Kersamanah Garut, Pria Asal Jakarta Timur Diamankan Polisi

Keluhan sama tentang pembatasan solar di Garut diungkapkan juga oleh Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Garut, Yudi Nurcahyadi yang telah berdampak berhentinya operasional angkutan penumpang maupun barang.

Menurut dia, pembatasan pembelian solar itu ternyata hanya terjadi di Garut dan daerah Priangan Timur yakni Tasikmalaya, Ciamis, Banjar dan Pangandaran, sedangkan daerah lain di Jabar tidak dibatasi.

Baca Juga:   18 Tahun TP-Link di Indonesia: Dari Pelopor Wi-Fi hingga Mitra Transformasi Digital Nasional

“Kita belum mendapatkan jawaban pasti mengenai kekurangan BBM dan kenapa harus Priangan Timur, di kota kabupaten lain tidak ada pembatasan,” kata Yudi.

Ia menambahkan dampak pengurangan bahan bakar jenis solar itu membuat pengusaha angkutan harus menghentikan operasi beberapa kendaraannya karena tidak cukupnya stok solar.

“Karena dibatasi jadi operasional juga terbatas, ini sudah mengkhawatirkan,” kata Yudi. (Ant/Fj)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *