oleh

Selama Tiga Tahun, di Garut Ada 12.291 Janda Muda Baru

GOSIPGARUT.ID — Tingkat perceraian yang terjadi di Garut dalam kurun tiga tahun terakhir terbilang tinggi. Ironisnya, mereka yang gagal mempertahankan rumah tangganya rata-rata masih berusia muda yakni antara 23-35 tahun.

Diakui Juru Bicara Pengadilan Agama Kelas 1A Garut, Muhammad Dihyah Wahid. Menurutnya, sejak sejak 2016, di Garut telah lahir 12.291 janda baru.

“Jumlah sebanyak itu baru berdasarkan data yang masuk di Pengadilan Agama Garut dan yang sudah diputus hingga akhir tahun 2018. Jumlah keseluruhannya bisa saja lebih banyak dari itu karena tak menutup kemungkinan masih ada yang belum terdata,” ujar Dihyah, belum lama ini.

Menurut dia, meski ada janda yang usianya muda dan tua, rata-rata mereka yang bercerai masuk dalam kategori usia produkstif yakni 23-35 tahun.

Baca Juga:   Setiap Hari di Garut Ada 10 Janda Baru, Apa Sebabnya?

Dihyah mengatakan, ada berbagai faktor yang menjadi penyebab banyaknya pasangan suami-istri yang memilih berpisah. Perceraian lebih banyak diakibatkan faktor ekonomi dan suami yang dianggap tidak bertanggung jawab.

Dibanding tahun-tahun sebelumnya, tutur Dihyah, kasus perceraian yang terjadi selama tiga tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan data yang ada, kenaikan kasus prceraian dalam tiga tahun terakhir mencapai hampir 46 persen.

“Sebelumnya, pada 2016, jumlah kasus perceraian yang sudah diputus mencapai 3.642 kasus. Namun, tahun 2018 naik cukup tinggi menjadi 4.647 kasus,” kata dia.

Dihyah mengatakan, jumlah gugatan cerai yang terdaftar jauh lebih banyak. Namun, pada akhirnya tak semuanya jadi diputus bercerai karena tak sedikit pula yang memutuskan mencabut gugatannya.

Baca Juga:   25 Tahun Menikah, Pasangan Terkaya Sejagat Ini Akhirnya Bercerai

Bagi mereka yang berperkara, Penngadilan Agama biasanya memberikan bantuan hukum melalui pos bantuan hukum pengadilan. “Biasanya mereka dilayani pengacara masing-masing. Sementara kami tidak diperbolehkan menemui para pihak sebelum ada putusan,” ujar dia.

Dihyah menyatakan, ada tiga faktor besar yang menjai pemicu utama naiknya angka perceraian di Garut. “Seperti karena soal hukum (dipenjara), nikah muda, dan lainnya, tapi yang paling banyak ada tiga,” ujarnya.

Penyebab utama perceraian di Garut adalah perekonomian. Melemahnya ekonomi ikut berdampak pada keharmonisan keluarga rumah. “Tetapi kadang yang sudah PNS juga banyak yang daftar (cerai), padahal secara ekonomi, untuk di daerah, mungkin cukup,” ujarnya.

Baca Juga:   Mungkin Ini Sejumlah Alasan Gita KDI Nekat Gugat Cerai Suaminya

Data Pengadilan Agama mencatat, sejak 2016 hingga 2018, total kasus perceraian akibat persoalan ekonomi mencapai 5.713 kasus. “Paling banyak tahun 2017 mencapai 2.505 kasus,” ujarnya.

Penyebab kedua adalah adanya pihak yang tidak bertanggung jawab. Pengadilan Agama mencatat, sejak 2016, faktor suami meninggalkan istri mencapai 3.011 kasus. “Paling banyak tahun lalu (2018) yang mencapai 1.791 kasus meninggalkan tidak bertanggung jawab,” ujarnya.

Sementara di posisi ke tiga terbanyak adalah karena perselisihan atau percekcokan yang terus- menerus. Untuk penyebab ini, dalam tiga tahun terakhir, tercatat sebanyak 1.388 kasus.

“Kalau yang terus berselisih paling banyak tahun 2017 sebanyak 375 kasus,” ujarnya. (PR/Yus)

Komentar

Berita Terkait