oleh

Konektivitas Jalan di Jabar Kurang Baik, Contohnya di Garut Selatan

GOSIPGARUT.ID — Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Jawa Barat, A Koswara menyampaikan konektivitas jalan di Jabar masih dibawah 50 persen. Karena itu, pihaknya berupaya mendorong menjadi 60 persen hingga 2023, nanti agar tekoneksi lebih baik.

Koswara sampaikan, untuk meningkatkan angka konektivitas, tidak hanya jalan milik provinsi yang diperhatikan. Namun, kuantitas dan kualitasnya jalan kabupaten kota pun harus disentuh.

“Konektivitas itu dilihat dari kemantapan jalan dan aksesbilitasnya. Misalnya dari 10 jalan, kemantapan yang baik baru dua ruas. Sisanya terhubung tapi jalannya ga mantap,” ujar Koswara belum lama ini.

Contoh lainnya, kata dia, pada beberapa kabupaten di Jabar terdapat dua kecamatan yang letaknya berdampingan. Namun untuk mencapai lokasi tersebut harus mengakses jalan melalui kecamatan bahkan kabupaten lainnya dulu untuk bisa terkoneksi.

Misalnya, di Kabupaten Garut, warga Singajaya harus memutar melewati Cikajang dan Cisompet lebih dulu untuk sampai Pameungpeuk lewat jalan berkualitas baik. Warga Garut Kota pun masih banyak yang melewati Kabupaten Bandung untuk mencapai Cisewu yang masih Kabupaten Garut.

Baca Juga:   Pemprov Jabar Terus Berupaya Tingkatkan Konektivitas Wilayah

“Maka jalan ini nilai konektivitasnya sedikit. Masalahnya di Jabar, database mengenai konektivitas jalan ini belum lengkap. Kita sedang menyiapkan big data mengenai semua jalan. Tidak hanya jalan nasional dan provinsi, tapi jalan kabupaten dan kota,” paparnya.

Dia sampaikan, dengan konektivitas jalan di bawah 50 persen pada 2018 ini, pihaknya akan berupaya mendongkrak di angka 60 persen pada 2023. Hal itu sesuai dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) Jabar di bawah kepemimpinan Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum.

“Untuk meningkatkan konektivitas jalan yang masih dibawah 50 persen, salah satu caranya dengan menyelesaikan kesenjangan infrastruktur untuk Jabar selatan. Kami targetkan di 2023 RPJMD harus sudah terkoneksi,” katanya.

Kondisi jalan yang menghubungkan Kecamatan Singajaya, Peundeuy, dan Cibalong di Garut Selatan. (Foto: Dadang Kuswandi)

Lanjut dia, khususnya pada jalan di Jabar selatan yang belum terkoneksi dengan baik. Berbeda dengan Jabar Utara dan Tengah yang menurutnya konektivitas di kawasan tersebut sudah baik.

Baca Juga:   Halaman Kantor BJB Cisewu pun Dipenuhi Kendaraan Wisatawan

“Jabar selatan masih kurang dari sisi tata ruangnya karena memang untuk pengembangan budi daya insentif dan hutan lindung,” katanya.

Pantai selatan, kata dia, sekarang sudah diprioritaskan jadi terhubung sampai timur. Namun, konektivitas jalur tengah dan selatan hampir 100 Km jadi jaraknya jauh.

“Ini yang harus dipotong. Koridor barat timur kurang tapi kalau utara selatan cukup banyak yang dibangun. Barat ke timur masih sedikit,” katanya.

Menurut Koswara, akibat tak terkoneksi ada satu kecamatan di Kabupaten Bandung, untuk pergi ke kecamatan lain harus berputar dahulu. Sementara dia Jabar Selatan banyak yang kondisinya seperti itu.

Baca Juga:   Antisipasi Bencana Longsor, Alat Berat Disiagakan di Garut Selatan

“Jadi, sekarang sudah ada kajiannya di Bina Marga bagaiman agar semua daerah mudah terhubung dan fokus pada penyelesaian ketimpangannya,” katanya.

Sementara itu, Dosen Teknik Sipil ITB, Eri susanto menyampaikan, kemantapan jalan adalah bagian dari konektivitas. Jadi, harus diperhatikan mulai dari pembangunan jalan sampai melayani masyarakatnya.

“Jadi membangun jalan itu harus melihat bagaimana agar dua daerah terhubung. Misalnya, segitiga Rebana kan itu terkoneksi,” katanya.

Eri menilai, pembangunan jalan baru seperti jalan tol tak bisa mengabaikan masalah aksesbilitas yang menghubungkan jalan yang satu dengan lainnya. Namun, memang untuk mewujudkan itu biayanya sangat besar.

“Konektivitas itu tak hanya dengan jalan provinsi tapi juga dengan nasional,” katanya. (IK/Gun)

Komentar

Berita Terkait