Berita

Produk Olahan Kulit Sukaregang Sulit Tembus Pasar Asean

×

Produk Olahan Kulit Sukaregang Sulit Tembus Pasar Asean

Sebarkan artikel ini
Produk olahan kulit Garut. (Foto: Istimewa)

GOSIPGARUT.ID — Produk olahan kulit asal Sukaregang, Kabupaten Garut, ternyata sulit menembus pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Hal itu disebabkan karena produk kulit asal Sukaregang ini hanya bisa dijangkau oleh masyarakat kalangan menengah ke atas.

“Sulit bersaingnya di harga saja, produk kulit kami mahal. Beda dengan produk kulit dari Cina, Thailand dan negara asia lainnya, harganya beda jauh, sangat murah,” kata Wakil Ketua Penyamak Kulit Indonesia (APKI) Kabupaten Garut, Anay Sukandar, kepada wartawan, Sabtu (9/2/2019).

Ia mencontohkan, harga produk jaket dari kulit paling minim dengan kualitas kulit medium harganya mencapai Rp 900 ribu dan paling tinggi bisa mencapai hingga jutaan rupiah. “Berbeda dengan produk fashion kulit import dengan barang sama, harganya dibawah. Harga impor itu bisa sampai Rp 300 ribuan,” ujar Anay.

Baca Juga:   Dapat Bantuan Aspirasi Dewan Rp18 Juta, SDN 1 Cisewu Bangun Lapang Volly

Namun, meski produk kulit Sukaregang itu mahal, Anay menjamin jika kualitas kulit juga bisa lebih bersaing dengan produk luar negeri yang saat ini mulai membanjiri pasar di Indonesia. “Kalau kualitas, kami bisa bersaing dengan produk luar,” tandasnya.

Anay menyebut, mahalnya produk kulit asli Garut ini dipengaruhi dari biaya produksi yang begitu mahal, dari mulai bahan baku hingga bahan-bahan kimia untuk proses penyamakan kulit itu dibandrol dengan harga tinggi, karena hampir 80 persen bahannya import.

Baca Juga:   Ikut Pameran di Italia, Produk Fesyen Berbahan Kulit dari Garut Dapat Pengakuan Dunia

“Jadi ketika dolar tinggi, itu sangat berpengaruh kepada bahan-bahan yang digunakan untuk penyamakan kulit,” ucapnya.

Dengan kondisi itu, kata Anay, maka para pengusaha kulit di Sukaregang tidak bisa menjual hasil kerajinan kulit dengan harga murah, karena biaya yang dikeluarkannya juga tergolong besar. Sehingga kondisi ini membuat para pengusaha kulit di Sukaregang sulit bersaing dengan harga kulit impor.

Karena itu, pihaknya menginginkan kepada pemerintah unuk memberikan ruang dan membuka pasar untuk hasil para penyamak kulit di Sukaregang. Hal itu karena para pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) di sektor industri kulit tidak bisa bersaing dengan pangsa pasar terbuka seperti ini.

Baca Juga:   Setelah Penerapan PPKM Darurat, Kasus Covid-19 di Garut Terus Menurun

“Kalau terus dibiarkan, para pelaku UKM di Sukaregang ini secara perlahan bisa gulung tikar. Padahal industri kulit ini udah menjadi brand atau icon Kabupaten Garut, baik di tingkat nasional maupun mancanegara,” ucap Anay. (Glm/Yus)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *