GOSIPGARUT.ID — Taman Satwa Cikembulan di Kabupaten Garut terus berupaya memperkuat perannya sebagai lembaga konservasi satwa. Salah satu langkah tersebut ditandai dengan kunjungan Perkumpulan Kebun Binatang Seluruh Indonesia (PKBSI) yang melakukan pembinaan, evaluasi pengelolaan, sekaligus membahas berbagai peluang pengembangan program konservasi di taman satwa tersebut.
Manajer Operasional Taman Satwa Cikembulan, Rudy Aripin, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda pembinaan rutin PKBSI terhadap seluruh anggotanya. Taman Satwa Cikembulan sendiri telah tergabung sebagai anggota PKBSI sejak awal berdiri sehingga evaluasi dilakukan untuk memastikan pengelolaan konservasi berjalan sesuai standar sekaligus mengidentifikasi kebutuhan yang masih perlu diperkuat.
“PKBSI ingin melihat sejauh mana Taman Satwa Cikembulan berpartisipasi sebagai lembaga konservasi, sekaligus mengetahui kebutuhan yang diperlukan agar pengelolaan taman satwa semakin baik,” kata Rudy.
Menurut Rudy, pembahasan dalam kunjungan itu tidak hanya menyangkut kondisi pengelolaan saat ini, tetapi juga berbagai peluang peningkatan kualitas konservasi pada masa mendatang. Salah satunya melalui pembaruan data koleksi satwa, termasuk penyesuaian nama ilmiah, serta kemungkinan mengadopsi program-program konservasi yang telah diterapkan di lembaga lain.
Ia menjelaskan, PKBSI selama ini aktif memantau perkembangan setiap anggotanya melalui laporan berkala maupun aktivitas yang dipublikasikan di media sosial. Karena itu, hasil kunjungan lapangan menjadi bagian penting dalam menyusun rekomendasi dan tindak lanjut untuk mendukung peningkatan kualitas pengelolaan Taman Satwa Cikembulan.
Rudy menilai keberhasilan sebuah lembaga konservasi tidak dapat dicapai tanpa kolaborasi. Menurut dia, pengelolaan satwa membutuhkan dukungan berbagai pihak, baik pemerintah, organisasi konservasi, dunia usaha, maupun masyarakat.
Selama ini, Taman Satwa Cikembulan telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Salah satu bentuk kolaborasi yang berjalan adalah pemanfaatan buah-buahan yang tidak layak dijual, tetapi masih layak dikonsumsi sebagai pakan satwa. Program tersebut dinilai tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pakan, tetapi juga mengurangi potensi limbah pangan.
Di sisi lain, koordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) juga terus diperkuat. Kerja sama tersebut mendukung pelaksanaan berbagai program konservasi, mulai dari rehabilitasi satwa hingga pelepasliaran kembali ke habitat alaminya sesuai ketentuan yang berlaku.
Rudy mengatakan, penilaian positif yang diberikan PKBSI menjadi penyemangat bagi seluruh pengelola untuk terus meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat fungsi konservasi.
“Kalau ada yang masih kurang tentu harus kita benahi, sementara yang sudah baik harus terus dipertahankan. Itu menjadi tantangan bagi kami,” ujarnya.
Ke depan, Taman Satwa Cikembulan berharap hubungan dengan PKBSI semakin erat sehingga organisasi tersebut dapat memfasilitasi berbagai kebutuhan lembaga konservasi, termasuk penguatan sumber daya manusia.
Menurut Rudy, keberadaan tenaga profesional seperti dokter hewan dan tenaga ahli konservasi menjadi kebutuhan penting untuk mendukung pengelolaan satwa, kegiatan edukasi, penelitian, hingga pengembangan program konservasi yang berkelanjutan.
Melalui sinergi bersama PKBSI, BBKSDA, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, Taman Satwa Cikembulan berharap dapat terus berkembang sebagai lembaga konservasi yang tidak hanya menjadi destinasi edukasi dan wisata keluarga, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi upaya pelestarian satwa dan keanekaragaman hayati di Indonesia. (Yuyus)


.png)











