Workshop Parenting Bahagia digelar untuk mendukung terwujudnya Kabupaten Layak Anak dan menciptakan sekolah yang aman serta berkarakter.
GOSIPGARUT.ID — Rendahnya partisipasi tenaga pendidik dalam kegiatan parenting menjadi sorotan KePPaK Perempuan (Kelompok Peduli Penghapusan Tindak Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak) Komisariat Kabupaten Garut. Padahal, kasus kekerasan seksual terhadap anak, perundungan, dan intimidasi di lingkungan pendidikan masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian bersama.
Kondisi tersebut terungkap dalam kegiatan Workshop Parenting Bahagia Mewujudkan Sekolah Aman Berkarakter yang diselenggarakan KePPaK Perempuan di GOR SGIP Cibunar, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Senin (15/6/2026). Kegiatan itu menjadi bagian dari dukungan masyarakat sipil terhadap upaya Pemerintah Kabupaten Garut dalam mewujudkan Kabupaten Layak Anak (KLA).
Ketua KePPaK Perempuan Komisariat Kabupaten Garut, Ai Karnengsih, mengatakan pendidikan parenting memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang aman bagi anak, baik di rumah maupun di sekolah.
Menurut dia, pembentukan karakter anak tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan aktif orang tua dan dukungan pemerintah.
“Alhamdulillah, sebagai bentuk dukungan kepada Pemerintah Kabupaten Garut yang berkomitmen mewujudkan Kabupaten Layak Anak demi menciptakan generasi muda yang berkualitas dan mampu melanjutkan pembangunan, KePPaK Perempuan hadir dengan menggelar kegiatan Parenting Bahagia Mewujudkan Sekolah Aman Berkarakter,” kata Ai.
Workshop bertema “Anak Aman Psikis, Mental, Kemandirian, Tauhid, dan Pelecehan” tersebut menghadirkan Staf Ahli Layanan Psikologi Dede Sundara sebagai narasumber. Kegiatan juga dihadiri Kepala Bidang Perlindungan Anak DPPKBPPPA Kabupaten Garut serta Koordinator Pengawas Pendidikan Kecamatan Cibatu.
Peserta kegiatan berasal dari kalangan guru PAUD, Kelompok Bermain (Kober), Satuan PAUD Sejenis (SPS), TK, IGRA, serta para orang tua anak usia dini. Kelompok ini dipilih karena fase usia dini dinilai sebagai masa paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak.
Ai menilai, meningkatnya kasus kekerasan seksual terhadap anak dan maraknya praktik perundungan di lingkungan pendidikan menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk memperkuat pendidikan karakter sejak dini.
“Tingkat kekerasan seksual di Kabupaten Garut masih tinggi. Bullying dan intimidasi di sekolah juga masih menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan. Ini menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua, sekolah, dan pemerintah,” ujarnya.
Karena itu, KePPaK Perempuan berupaya mengambil peran sebagai penghubung antara orang tua, sekolah, dan pemerintah guna membangun sistem perlindungan anak yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Namun, di tengah upaya tersebut, Ai mengaku prihatin terhadap masih rendahnya kesadaran sebagian tenaga pendidik untuk mengikuti kegiatan parenting yang disediakan secara gratis.
Menurut dia, minimnya partisipasi tersebut bertolak belakang dengan semangat Pemerintah Kabupaten Garut yang tengah mendorong percepatan terwujudnya Kabupaten Layak Anak.
“Kita prihatin. Di tengah komitmen Pak Bupati mewujudkan Kabupaten Layak Anak, kesadaran para pendidik usia dini terhadap pentingnya parenting masih rendah. Padahal kegiatan ini gratis dan tinggal diikuti,” katanya.
Ia menyebutkan, dari tiga kecamatan yang menjadi sasaran kegiatan, yakni Cibatu, Limbangan, dan Selaawi, jumlah peserta yang hadir hanya mencapai 103 orang.
Jumlah tersebut dinilai belum mencerminkan tingginya kebutuhan peningkatan kapasitas guru dan orang tua dalam menghadapi berbagai persoalan yang mengancam tumbuh kembang anak saat ini.
“Dari tiga kecamatan itu hanya 103 peserta. Ini menjadi bahan evaluasi bagi Pemerintah Kabupaten Garut bahwa minat para guru terhadap pentingnya parenting masih sangat kurang. Kami akan menelusuri penyebab rendahnya partisipasi tersebut,” ucap Ai. ***



.png)
















