Budaya

Seharian Semalam, Ruwatan Bumi 2026 di Cisewu Garut Hadirkan Arak-arakan hingga Wayang Golek

×

Seharian Semalam, Ruwatan Bumi 2026 di Cisewu Garut Hadirkan Arak-arakan hingga Wayang Golek

Sebarkan artikel ini
Agenda seni dan budaya Ruwatan Bumi 2026.

GOSIPGARUT.ID — Tradisi sarat makna kembali digelar di selatan Kabupaten Garut. Pagelaran Seni dan Budaya Ruwatan Bumi 2026 akan berlangsung di Lapang Lemahluhur, Sabtu (2/5/2026), dengan rangkaian acara sejak pagi hingga tengah malam.

Mengusung tema “Mapay Urat Karuhun”, kegiatan ini diselenggarakan oleh Rumah Budaya Sunda Galuh Pakuan dengan dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Festival ini menjadi ruang ekspresi seni sekaligus upaya menjaga tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman.

Ketua Rumah Budaya Sunda Galuh Pakuan, Gun Gun Nugraha, menyebut ruwatan bumi bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan ritual adat yang mengandung nilai spiritual dan sosial yang kuat.

Baca Juga:   Sehari Jelang Pemilu SMKN 1 Garut Gelar Do'a Bersama

“Ruwatan bumi adalah bentuk syukur kepada Tuhan, sekaligus ikhtiar memohon keselamatan dan keberkahan bagi masyarakat serta lingkungan,” ujarnya.

Gun Gun menjelaskan, tradisi ini juga menjadi simbol harapan agar masyarakat terhindar dari berbagai marabahaya, seperti bencana alam maupun gangguan terhadap hasil pertanian.

Rangkaian acara akan dibuka dengan arak-arakan budaya dan rampak ibing ketuk tilu oleh komunitas tari Rose Club. Selanjutnya, berbagai kesenian khas Sunda akan ditampilkan secara bergantian.

Baca Juga:   Korupsi Dana Desa Rp501 Juta, Mantan Kades di Cisewu Garut Dipidana Penjara 4,6 Tahun

Sejumlah pertunjukan yang dijadwalkan tampil di antaranya calung, angklung, kecapi suling, tari jaipong, pencak silat, hingga kesenian rakyat seperti dodombaan, babantengan, reak, dan tarawangsa. Tidak hanya itu, pagelaran wayang golek oleh Putra Giri Loka juga menjadi salah satu agenda utama yang dinantikan pengunjung.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul 07.00 WIB hingga 24.00 WIB ini diharapkan mampu menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Gun Gun menambahkan, ruwatan bumi memiliki makna mendalam, yakni menjaga keseimbangan antara manusia dan alam serta merawat warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Baca Juga:   Mengisi Masa Tenang Pemilu Ala Mahasiswa STAI Persis Garut

“Ini juga momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan dan memperkuat silaturahmi antarwarga,” katanya.

Melalui pagelaran ini, nilai-nilai kearifan lokal diharapkan tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya yang harus dijaga. ***

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *