Jawa Barat

Gubernur Dedi Mulyadi Larang Hukuman Fisik di Sekolah: “Didik, Bukan Menyakiti”

×

Gubernur Dedi Mulyadi Larang Hukuman Fisik di Sekolah: “Didik, Bukan Menyakiti”

Sebarkan artikel ini
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi.

GOSIPGARUT.ID — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi resmi mengeluarkan Surat Edaran (SE) yang melarang seluruh guru di Jawa Barat memberikan hukuman fisik kepada siswa di sekolah. Dalam surat edaran itu ditegaskan, setiap bentuk sanksi atas pelanggaran siswa harus berorientasi pada pembelajaran, bukan pada kekerasan atau tindakan fisik.

Kebijakan ini muncul setelah terjadi perselisihan antara orang tua murid dan seorang guru SMP di Kabupaten Subang, yang diduga menampar siswanya karena melanggar aturan sekolah. Insiden tersebut menuai perhatian publik dan mendorong pemerintah provinsi mengambil langkah tegas.

“Kalau anak salah, cukup beri hukuman yang mendidik. Misalnya bersihkan halaman sekolah, mengecat tembok, membersihkan kaca, atau mengurus sampah. Tidak boleh hukuman fisik karena itu berisiko hukum,” ujar Dedi Mulyadi, yang akrab disapa Kang Dedi.

Baca Juga:   Gubernur Jabar: Ibu-ibu di Garut Banyak yang Terkena Rentenir

Menurut Dedi, sekolah seharusnya menjadi tempat mendidik karakter dan membentuk tanggung jawab, bukan ruang untuk melampiaskan emosi. Ia menekankan pentingnya pendekatan humanis dan edukatif dalam setiap tindakan disiplin.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman, memastikan surat edaran tersebut telah didistribusikan ke seluruh satuan pendidikan. Larangan ini berlaku untuk semua jenjang, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK), termasuk Madrasah Aliyah (MA) di bawah naungan Kementerian Agama.

Baca Juga:   Dinas BMPR Provinsi Jabar Tambal Sulam Hotmix Ruas Jalan Tasikmalaya-Cipatujah

“Penyelesaian masalah anak-anak harus edukatif. Tujuannya menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Kalau pun ada hukuman, harus bersifat mendidik, bukan menyakiti,” kata Herman.

Ia menambahkan, pendekatan pembinaan berbasis pendidikan menjadi semakin penting di era digital saat ini. Pengaruh media sosial terhadap perilaku siswa dinilai semakin besar, sehingga sekolah dan guru perlu menyesuaikan cara mendidik dengan kondisi zaman.

“Anak-anak sekarang punya dinamika yang khas. Pendekatannya tidak bisa keras, tapi harus pedagogik dan penuh empati. Kalau tidak diedukasi dengan baik, bisa jadi pengaruh media sosial lebih kuat daripada nasihat guru atau orang tua,” ujarnya.

Baca Juga:   Minimalisir Penyebaran Corona, MUI Jabar Sarankan Shalat Jumat Dipersingkat

Herman juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, pemerintah, orang tua, dan masyarakat untuk membangun lingkungan belajar yang aman dan berkarakter.

“Kita ingin menciptakan sekolah yang ramah anak. Disiplin itu penting, tapi harus melalui pembinaan, bukan kekerasan,” tutupnya. (Yan AS)

Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News, WhatsApp Channel dan Telegram Channel
Konten berbayar berikut adalah iklan platform Recreativ dan MGID. Gosipgarut.id tidak terkait dengan materi konten ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *